123, Example Street, City 123@abc.com 123-456-7890 skypeid

Minggu, 21 April 2013

Cerpen:Selamat Tinggal Sahabat


SELAMAT TINGGAL SAHABAT
Saat jam istirahat. Robi, Darwin, dan Coki seperti biasa mereka pergi kekantin. Mereka adalah 3 sahabat yang sudah merajut persahabatannya dari SD sampai sekarang mereka kelas 3 SMA, begitu panjang perjalanan persahabatan mereka. Bisa dibilang mereka sudah seperti keluarga. Walaupun sudah lama bersahabat, mereka sama sekali tidak pernah bersi tegang satu sama lain. Mereka selalu akur layaknya sekelompok semut.  Mereka juga memiliki kisah cinta yang sama-sama tragis. Mereka tidak pernah mendapat pasangan yang cocok. Sekalinya mereka dapat cewe cantik tapi tidak setia. Oleh karena itu mereka termasuk golongan jones(jomblo ngenes) paling berpengaruh disekolah(dikumpulkan dari survey ke sepuluh wanita disekolah.).
Dikantin..
Meraka bertiga sangat lahap menyantap makanan yang dipesannya. Robi, yang sudah menghabiskan 1 mangkok bakso, tidak sengaja melihat Lala yang sedang membeli pop ice. Lala itu cewek yang cantik, kulitnya putih, rambutnya hitam pekat sebahu menghiasi kepalanya. Robi melihat Lala sampai sampai mulutnya terbuka lebar. Dia sangat kagum kepada Lala. Dia berhayal andaikan dia bisa menjadi pacarnya dia pasti sangat senang bukan kepalang. “woii bengong ajah lu Rob, pake mangap mangap segala lagi” ujar Coki sambil memukul pundak Robi hingga membuyarkan lamunan Robi.”ahh apaan si lu ngagetin gue ajah. Coba deh Cok lu liat tuh cewek yang lagi mesen pop ice di warung bu tini” ujar Robi sambil menunjuk kearah Lala. “mana mana? Oh si Lala?” tanya Coki. “Iya Lala” ujar lagi Robi sambil menganggukkan kepalanya. “kenapa emang? lu suka sama dia? Lumau jadi pacarnya? PDKT gituh? ” tanya Coki lagi sambil mengernyitkan dahinya seakan ridak percaya kalo Robi bisa suka sama Lala. Siapa yang nggak kenal Lala? Cewek cakep yang juteknya minta ampun. “iyaa kayanya gue suka sama dia cok, dia tuh cantik,manis, walaupun sedikit jutek tapi gue yakin dia baik kalo kitanya kenal sama dia” Ujar Robi dengan penuh keyakinan. “Tapi lu mau kan bantuin gue dapetin nomornya?” ujar Robi lagi. “Hmm gimana ya?coba  Gue tanya Darwin dulu dah”ujar Coki sambil membalikkan tubuhnya kearah Darwin yang sedang asyik dengan BBnya. “Win, lu mau bantuin Robi deket sama Lala nggak?” Tanya Robi. “Bantu? Gimana ya? Gua paling nggak suka nih kalo berurusan dengan cinta cinta gini. Tapi karena lu temen gue Rob , gue bakal bantu lu dah” ujar Darwin. “nah gitu dong ini baru temen gue” ujar Robi kesenengan. “Tapi ntar kalo udah jadian traktir ya Rob?” saut Coki tiba tiba. “oke itu mah gambang kawan!! Lu mau minta apa ajah gue penuhi” . KRINGGG KRINGGG bunyi bel tanda masuk kelas.

Keesokan harinya Darwin dan Coki mencari cari informasi tentang Lala keseluruh penjuru sekolah.  Robi yang seperti raja menyuruh anak buahnya mencari informasi tentang calon permaisurinya Lala, dia hanya duduk manis di kursinya menunggu informasi yang di dapatkan Darwin dan Coki.
Darwin dan Coki pun mendapat informasi tentang Lala dari teman baiknya Tari. Tari yang mereka temui di kantin. Tari membeberkan semua data-data dan fakta tentang Lala. Sebelumnya Tari tidak mau memberi tahu informasi tentang Lala tapi Coki dengan segala akalnya mampu menaklukkan Tari. Tari disogok dengan uang selembar 10 rebu. Tari benar benar tau segalanya tentang Lala. Setelah Tari panjang lebar membeberkan informasi tentang Lala. Darwin dan Coki pun segera menemui Robi yang sedang duduk manis dikelas.
Dikelas. Darwin dan Coki melihat Robi yang tertidur lelap meletakkan kepalanya di atas meja. Mereka pun membangunkan Robi. Robi terkejut lalu terbangun sambil mengelap cairan yang keluar dari mulutnya(iler).
Melihat Robi sudah terbangun Darwin menceritakan semua informasi tentang Lala kepada Robi. Panjang lebar ujar Darwin membuat Robi sedikit bingung. Sudah semua informasi diberi tahu kepada Robi. Robi merasa masih ada yang kurang dengan Informasi itu. Informasi yang menurut Robi ini sangat vital untuk mendapatkan Lala. Tapi apa? Robi berfikir sejenak mengheningkan pembicaraan. Oia Nomer handphone!!. “lu dapet nomor handphonenya nggak?” tanya Robi. “yampunn Rob gue lupaa. Gmana nih?” ujar Darwin. “ah lu gimana si, yaudah minta lagi dah sono , lu tadi minta informasinya sama siapa emang?” ujar Robi sambil menggaruk garuk kepalanya karena kecewa. “gue tadi ama Coki minta sama Tari, tapi kalo minta sama Tari harus bayar 10 rebu dulu” ujar Darwin dengan tampang memelas. “yaudah nih ceban, lu minta nomor telpon Lala sama Tari” ujar Robi sambil mengeluarkan selembar uang dari dalam dompetnya. “segini doang? Uang transportnya mana? ” sela Coki sambil mengelus ngelus perutnya seakan akan memberi petunjuk kalo dia sudah lapar kepada Robi. “ah yaudah nih ceban lagi , sama ajah lu berdua kayak Tari”.
Nomor handphone Lala pun sudah digenggaman walaupun tadi sedikit ada keributan tentang harga nomor itu. Tari sebelumnya mematok harga 15 rebu. Tapi dengan kegigihan Coki, ia berhasil menawar hingga jadi 5 rebu.

Dibasecamp..
Basecamp yang terletak tidak jauh dari halaman belakang rumah  Robi yang dulunya digunakan sebagai gudang tempat meletakkan barang barang bekas. Gudang itu sudah di modifikasi sedemikian rupa menjadi lebih menarik dan bersih oleh ayah Robi supaya dapat digunakan sebagai tempat berkumpul Robi, Darwin,dan Coki. Ruangannya memang tidak terlalu besar, hanya berukuran 3x2 meter. Didalamnya hanya ada bed cover satu, sofa yang ukurannya tidak terlalu besar berada di samping Bed cover , lalu ada tivi 24 inchi,  Dan Didindingnya yang berwarna merah cerah membuat ruangan ini lebih indah apalagi dihiasi dengan foto-foto kenangan mereka bertiga dari sejak di bangku SD, seperti foto saat mereka sedang lomba pramuka waktu di kelas 6, ada juga foto saat kelulusan SMP yang sedang coret-coretan, dan paling tidak mungkin dilupakan yaitu foto saat mereka memenangkan lomba festival Band.
Mereka bertiga sangat sibuk dengan kegiatannya masing masing. Darwin sibuk online di laptop milik Robi, Coki juga sedang asyik dengan ps3nya yang dari tadi main bola kalah mulu, dan Robi lagi sibuk ngakal si Lala. Robi memberitahu kalau ke Darwin dan Coki kalau Lala sudah mulai terlihat suka dengannya. Ditambah dengan sekarang Robi dan Lala memakai kata “aku” dan “kamu” kalau sedang BBMan.

Singkat cerita Robi dan Lala pun jadian. Hari demi hari mereka lalui bersama dengan romantis layaknya seperti pasangan yang sudah lama jadian padahal mereka baru 3 minggu pacaran.
Robi lupa dengan janjinya kepada Ciko dan Darwin kalau akan mentraktir mereka sepuasnya. Tapi Robi tidak menganggap itu serius. Kalau Ciko dan Darwin menagih janjinya, ia  hanya bilang besok, besok, dan besok. Robi seperti kacang yang lupa dengan kulitnya. Semenjak pacaran dengan Lala, kehidupan dan perilaku Robi berubah drastis , dari yang jarang ngumpul bareng bareng, kalau diajak ngeband banyak alasan ini itu, dan semangat belajarnya pun mulai menurun karena setiap jam pelajaran Robi tidak pernah fokus, dia selalu sibuk BBMan dengan Lala, padahal jarak Lala dan Robi hanya berjarak 10 m dari kelasnya karena kelas Robi yang berada di X A tidak jauh dengan kelas X C tempat Lala berada.
Hari ini Darwin dan Ciko ingin latihan futsal. Tapi karena biasanya mereka latihan futsal berangkat bareng Robi. Ciko pun mencoba menelpon Robi. Ketika ditelpon, lagi lagi Robi menolak dengan alasan ingin mengerjakan tugas tapi sebenarnya Robi ingin nonton kebioskop dengan Lala. Darwin dan Ciko pun pergi latihan futsal tanpa Robi.
***
Dua bulan pun berlalu. Robi masih pacaran dengan Lala. Persahabatan Robi dengan Ciko dan Darwin pun sudah mulai retak. Itu semua sebab perilaku sombong Robi. Ia semakin lama semakin lupa dengan dari mana ia mendapatkan Lala. Dia melupakan semua perjuangan tanpa jasa dari Ciko dan Darwin untuk mendapatkan informasi tentang Lala. Robi lupa segala galanya tentang persahabatnnya semenjak Ia dibutakan oleh cinta. Memang benar cinta itu buta hingga membutakan persahabatan Robi dengan Ciko dan Darwin. Sebutan kepompong bagi mereka sebagai sahabat sejati sudah tidak pantas bagi mereka.
Semenjak perilaku Robi yang akhir-akhir ini berubah. Ciko dan Darwin tidak pernah marah sedikit pun dengan Robi. Mereka malah kasihan dengan Robi, mereka ingin Robi yang dulu, Robi yang nggak sombong. Robi yang ramah ,Robi yang solider tapi semua itu sepertinya sulit terwujud. Mereka pun hanya bisa berharap.

Besok, Robi ulang tahun. Ciko dan Darwin ingin memberi sureprize kepada Robi. Oleh karena itu mereka berdua pergi ke toko kue. Mereka melihat lihat kue yang cocok untuk diberikan ke Robi besok. Ciko akhirnya memberikan saran ke Darwin kalau beli blackforest saja. Darwin pun setuju dengan saran ciko.
Kue ulang tahun sudah dibeli. Ciko dan Darwin melanjutkan menuju toko olahraga. Mereka berdua ingin membelikan sepatu futsal untuk Robi. Walaupun Robi sudah memiliki tiga sepatu futsal tapi tidak ada salahnya mereka membelikannya lagi. Mereka pun menyusuri toko olahraga itu. Disana banyak sepatu sepatu bagus yang tertata rapih di raknya. Darwin menemukan sepatu yang pas untuk Robi. Ciko pun mengiyakan pilihan Darwin itu. Darwin dan Ciko pun segera membayarnya kekasir.
Setelah selesai membeli kue dan kado untuk ulang tahun Robi besok. Mereka bergegas menjemput mobil Ciko di parkiran. Diperjalanan mereka mendengarkan musik kesukaan Ciko “Granade” yang dinyayikan oleh Bruno Mars. Tapi karena Darwin tidak suka dengan lagu barat karena tidak mengerti bahasanya, ia pun mematikan musiknya. Ciko kesal dan mencoba menyalakannya lagi. Tapi dimatikan kembali oleh Darwin. Ciko bersih kerasnya menyalakannya lagi. Keributan kecil pun tidak terjadi. MATIKAN!!NYALAKAN!!MATIKAN!!NYALAKAN!!. Tiba tiba dari arah yang berlawanan ada truk tronton melaju sangat cepat. Ciko yang mengemudikan mobil segera membanting stir kekanan tapi tiba tiba bus pariwisata melintas dengan kecepatan tinggi dan menabrak mobil Ciko.
JEGERRRR!!!BRUKKK!!! Mobil yang dikemudikan Ciko berputar 3 kali diudara lalu terpelanting ke tengah jalan. Bus yang menabrak mobil Ciko hanya bagian bempernya saja yang rusak.  Ciko dan Darwin yang berada didalam mobil keadaanya sangat kritis dengan seluruh tubuh berlumuran darah hingga saat perjalanan menuju kerumah sakit mereka menghembuskan napas terakhir.

Keesokkan harinya disekolah, Robi sangat lesu seperti tak ada niat hidup lagi. Dihari ulang tahunya dia sangat kecewa karena tadi malam hubungannya dengan Lala kandas. Lala mutusin Robi tanpa sebab. Robi sangat ingin hari ini berbagi ceritanya ke Ciko dan Darwin. Tapi ia tidak enak kepada Ciko dan Darwin karena selama ini ia sudah jarang berkumpul. Tapi dia mencoba apapun resikonya nanti.
Sampai pelajaran dimulai, perasaan Robi mulai tidak enak “kenapa Ciko dan Darwin belum datang?”tanya Robi dalam hati. Biasanya mereka tidak pernah telat datang kesekolah. Sampai akhirnya bu yuni(guru BP) masuk keruang kelas dan memberitahu kalau Ciko dan Darwin meninggal dunia tadi malam karena kecelakaan. Seketika ruang kelas hening mendengar apa yang dikatakan Bu Yuni tadi.
Air mata Robi tidak dapat dibendung lagi. Dia sangat sedih dengan kepergian kedua sahabatnya itu. Ia benar benar menyesal dengan kelakuannya dulu saat masih pacaran dengan Lala. Dia lupa kalau memiliki kedua sahabat yang sangat baik kepadanya. Robi pun hanya tertunduk menangis memandang permukaan meja yang tertulis coretan dari tipe-x bertuliskan”CIKO-ROBI-DARWIN”. Ia langsung teringat dengan Ciko yang menulis tulisan di meja itu saat sedang bosan dengan pelajaran matematika.

Ciko dan Robi dimakamkan bersebelahan. Lagi lagi Robi tidak dapat membendung air matanya. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya saat gumbukan tanah menutupi jasad Ciko dan Robi. Hingga taburan bunga menghiasi gumbukan tanah itu.
Robi segera meninggalkan makam kedua sahabatnya itu sambil tersunguk-sungguk. Ibu Ciko tiba tiba menghampiri Robi sambil membawa kotak dengan bungkusan yang sudah tidak beraturan bentuknya(setengah rusak). “Ini titipan dari Ciko dan Darwin” ujar Ibu Ciko sambil menyerahkan kotak itu. “ini apa bu?” tanya Robi bingung sambil mengambil kotak yang diserahkan Ibu Ciko. “buka saja nak Robi” ujar Ibu menyuruh Robi. Robi pun membuka kotak yang sudah setengah hancur itu. Ternyata didalamnya ada sepasang sepatu futsal yang di beli Ciko dan Darwin kemarin.
Robi tersenyum kecil dengan butiran air yang mengalir dari pelupuk matanya. Ia tidak menyangka kalau Ciko dan Darwin masih setia dengannya walaupun ia sangat cuek dan tidak dapat disebut sahabat lagi untuk mereka. “nak Robi , ibu pulang dulu ya” ujar Ibu Ciko meninggalkan Robi.
Robi kembali menghampiri makam kedua sahabatnya itu lagi sambil menenteng sepasang sepatu futsal. “Ciko, Darwin. Maafin gue ya, selama ini gue udah ngelupain kalian berdua karena gue sibuk dengan Lala. Gue orang yang gatau terima kasih, gue bener bener nyesel dengan semua ini andaikan waktu bisa diulang , gue nggak bakal ngelakuin itu semua. Tapi itu nggak mungkin terjadi kalian sudah pergi jauh dialam sana. Gue akan selalu doain kalian berdua dan gue nggak akan pernah lupa dengan semua yang pernah kita lakukan dari kecil hingga sekarang. Makasih juga sepatu futsalnya ,gue suka banget. Gue pulang dulu ya Ko, Win. Semoga kalian tenang disana” ujar Robi panjang lebar membuat ia menangis lagi. Robi pun pergi meninggalkan makam Ciko dan Darwin dengan semua kenangan yang pernah mereka lewati bersama..

-TAMAT-

Jumat, 19 April 2013

Cerpen:Perempuan Penjual Bunga


PEREMPUAN PENJUAL BUNGA
“BADRIIIII….!!” Teriak ibu Badri dari dapur.
“Apasi Bu? Pake segala teriak-teriak kayak tarzan ajah” ujar Badri kesal.
“Tolong Belikan ibu bunga Dri ”
“Dimana ? Badri gatau bu. Ibu ajah napa, Badri lagi mager banget nih”
“di jl teratai sana. Kalau kamu nggak mau, ibu stop uang jajanmu 1 bulan” ujar ibu Badri dengan nada mengancam.
“yaelah Bu iyadah iya . Mana duitnya?” Ujar Badri ketus. “Oia mau beli bunga apa Bu?”
“Bunga mawar putih Dri”

Ibu Badri memang sangat menyukai bunga. Wajar saja kalau di setiap sudut rumahnya selalu di penuhi bunga. Ini kadang membuat Badri risih, Badri paling benci sama yang namanya bunga. Ia benci bunga karena alergi terhadap tumbuhan indah itu, setiap kali bunga dekat kewajahnya dia selalu bersin. Oleh karena itu Badri tadi menolak disuruh beli Bunga, tapi karena ancaman ibunya mau tidak mau dia harus mau.

Badri melihat dipinggir jalan samping trotoar perempuan cantik yang menjual berbagai macam bunga. Bunganya ditata rapih diatas gerobak. Melihat ada penjual bunga Badri segera memarkir vespanya dekat gerobak bunga itu.
“cantik cantik ko jualan bunga ya? Dipinggir jalan pula. Awas mba kena polusi ntar cantiknya ilang” ujar Badri dalam hati.
“Mba, beli bunganya dong” Ujar Badri sambil memilih milih bunga yang dipesan Ibunya tadi. Tidak lupa Badri memakai masker untuk antisipasi jika tiba-tiba ia bersin
“iya mas mau beli bunga apa? ” tanya perempuan itu.
“Bunga mawar putih mba nih yang ini”Ujar Badri sambil menunjukkan 3 ikat bunga yang sudah dipilihnya.
“oh bunga mawar putih yaudah sini bunganya saya bungkus plastik dulu”
“udah mba nggak usah nih uangnya mba” ujar Badri sambil memberikan uang 20.000.
“uangnya berapa nih mas?” tanya Perempuan itu.
“loh ini 20.000 mba” ujar lagi Badri.
“nih kembalinya mas” Perempuan itu menyerahkan uang sepuluh ribuan dan lima ribuan.
“loh ko banyak banget kembalinya? Gua kan beli 3. Biasanya 15 rebu” ujar Badri dalam hati sambil menatap wajah perempuan itu.
“mba..mba kembalinya kebanyakan nih” Ujar lagi Badri sambil memberikan uang sepuluh ribunya.
“makasih mas ya. Saya nggak tau”
“mm..iya iya mba samasama ” ujar Badri lalu meninggalkan Perempuan itu.

Setelah membeli bunga Badri langsung menancap gas melaju pulang kerumahnya. Diperjalanan ia masih menghayalkan wajah perempuan tadi. Sepertinya Badri jatuh cinta pada perempuan itu. “ah ngapa gue jadi mikirin dia si ?” tanya Badri dalam hati.

Di lorong koridor kampus..
“Dan, lu tau nggak tadi gue ngeliat cewek cantik banget sumpah” Ujar Badri sambil merangkul Bondan.
“wehh.. tumben nih temen gue yang satu ini ngomongin cewek. Biasanya juga lu ngomongin cowok ganteng mulu hehe ” Ujar Bondan meledek.
“sialan lu !! kali ini gue serius Dan. Kayaknya gue suka dah sama dia. Tapi gue masih bingung kenapa gue tiba-tiba suka sama cewek ituya?” tanya Badri heran.
“mungkin cewek itu cinta sejati lu kali. Emang siapa si?” ujar Bondan sambil asyik memainkan pspnya.
“cinta sejati? Cewek itu penjual bunga Dan. Dia biasanya jalan di jl teratai deket rumah gue”
“Tukang bunga? Lu yakin ? aduh Dri, Dri. Gue kira dia anak kampus ini tapi malah penjual bunga. Lu nggak salah milih kan? Lu ganteng Bro tapi lu bego milih ceweknya. Mending lu ikut Take Me Out dari pada sama tukang bunga itu” ujar Bondan panjang lebar dan merasa sok paling bener.
“ Tukang bunga yang ini beda Dan. Dia cantik, manis, dan yang paling gue seneng dari dia tuh lesung pipinya. Serasa pengen gue cubit tuh pipinya” Ujar Badri.
“Secantik cantiknya cewek tetep ajah kalo lagi beol tampangnya jelek haha” Ujar Bondan dengan nada candaan.
“nyesel gue ngomong sama lu Dan. Gue ke kelas dulu ah males gue ama lu” ujar Bondan sambil berlari meninggalkan Bondan yang masih asyik dengan PSPnya.
“woii Dri jangan marah dong. Tungguin Gue” Bondan lari mengejar Badri. Tapi karena badannya terlalu besar alias gendut baru 5 kali langkah ajah udah capek.
  
Dikelas..
Badri asyik menari-narikan tangannya di atas kertas kosong berwarna putih. Dia menggambar bunga mawar putih. walaupun gambarnya nggak ada bentuknya sama sekali Ia tetep meneruskan gambarnya. Bisa dibilang masih mending gambar anak TK al-azhar dari pada gambar bunga yang Badri gambar itu. Badri menggambar bunga itu karena mengingat kejadian tadi pagi. “ko gue jadi galau gini yaa? Apa mungkin gue fall in love? ” tanya Badri dalam hati.
*BUUUKK*
“Awww. Lu ngapa mukul gue Dan ? sakit bego!!” ujar Badri ketus.
“hah ague lucu ajah sama lu. Dari tadi gue liat lu gambar bunga jelek banget sumpah kalo gue nila 1-10 Itu gue nilai 5. Berarti lu remed Dri haha” Ujar Bondan mengejek gambar bunga yang dibuat Badri tadi.
“ah kampret lu Dan. Gue tiba tiba kangen banget sama itu penjual bunga Dan” ujar Badri sambil melihat gambarnya yang tidak karuan wujudnya.
“hmm.. kayanya kali ini gue harus bantu lu nih Dra. Gue nggak mau ngeliat lu galau mulu. Ayok gue temenin lu ke penjual bunga yang lu bilang itu” ujar Bondan sambil menarik tangan Badri yang sedang memegang kertas hingga kertas itu pun terjatuh di lantai.
“tunggu dulu Dan. Kertas gue jatoh” Ujar Badri  sambil mengambil kertas yang tergeletak di lantai.
“kertas gambar jelek ajah masih diambil. Yaudah ayok cepet”

Mereka pun segera ke parkiran menjemput motornya masing-masing. Sampai di parkiran mereka segera menghidupkan motor lalu melaju ke tempat perempuan penjual bunga itu berada. Badri melaju dengan motornya sangat cepat seakan-akan dia sudah tidak sabar menunggu pujaan hatinya itu walaupun masih berlabel calon. Badri sampe lupa kalo Bondan tertinggal jauh di belakang.

Singkat cerita mereka tiba di tempat jualan bunga yang tadi Badri beli. Tapi hanya terlihat gerobak yang diselimuti dengan terpal warna biru. Badri melihat arlojinya. Ternyata sudah jam 5 sore. Badri lalu menanyakan keberadaan perempuan itu ke abang-abang batagor yang précis berada disamping gerobak bunga.
Badri menghampiri abang-abang batagor yang sedang sibuk melayani pelanggannya“Permisi bang, numpang nanya?” tanya badri.
“boleh mas mau nanya apa?”tanya balik abang batagor.
“Dri, lu mau beli batagor?” tanya Bondan berbisik ke Badri.
“Lu diem dulu Dan gue lagi ngomong sama abang ini nih” ujar Badri dengan wajah kesal karena mengganggu percakapannya dengan Abang batagor.
“oia bang, saya mau nanya perempuan yang jual bunga ini kemana ya? Udah pulang dari tadi?” ujar bondan sambil menunjuk tangannya kearah gerobak bunga.
“oh.. mbak intan. Mbak intan barusan saja pulang mas”
“baru pulang bang? Tapi abang tau nggak rumahnya dimana?” tanya Badri penasaran.
“iya baru sekitar 10 menit yang lalu lah. Tapi saya kurang tau rumahnya mbak intan mas”
“oh yaudah yak bang makasih” wajah Badri sontak memelas karena intan(penjual bunga) sudah pulang. Badri segera meninggalkan warung batagor lalu menghampiri motor yang diparkir tidak jauh dari warung batagor. Badri lalu duduk di tepi trotoar dengan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “kenapa gue jadi nggak karuan gini? Kenapaa? Kenapaa? Kenapa gue harus begiinii!!!!!” gerutu Badri dalam hati.

Bondan datang menghampiri Badri yang sepertinya sangat terpukul “Udahlah Bro besok juga masih bisa ketemu kan? Kalo emang jodoh ya nggak kemana walaupun lu tinggal dihutan kalo itu jodoh lu, dia nggak bakal kemana-mana ” Ujar Bondan menyemangati Badri sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Badri berdiri.
“bener juga kata lu Dan. Besok gue kesini lagi dah” ujar Badri sambil menyambut uluran tangan Bondan.
“nah gitu dong. Baru ini sahabat gue ayok kita pulang”

Badri dan Bondan lalu meninggalkan tempat itu.

***
Keesokan paginya Badri berangkat kuliah lebih awal yang seharusnya jam 10 dia sudah berangkat jam setengah 7 karena ingin bertemu Intan di tempatnya berjualan bunga. Sampai di tempat Intan berjualan. Kehendak berkata lain, kondisinya masih sama seperti kemarin dengan gerobak yang seharusnya sudah tertata rapih dengan bunga-bunga yang cantik tapi masih tertutup rapat oleh terpal. Tapi Badri berpikir positif, kalau Intan belum berangkat atau macet dijalan.
1 jam berlalu. Badri masih setia menunggu duduk di tepi trotoar sambil melihat keramaian kendaraan yang berlalu lalang.
Badri melirik arlojinya. Jarum jam sudah menunjuk kearah jam setengah 10. Badri mulai lelah menunggu Intan. Dia menunggu 5 menit lagi kalau tidak ada dia segera jalan kekampus. 5 menit pun berlalu, Badri segera menghidupkan motornya lalu meluncur menuju kampus dengan wajah yang sangat kecewa.

Dikantin kampus…
“Bro, gimana tadi udah ketemu penjual bunga itu? “ tanya Bondan sambil duduk disamping Badri.
“maksud lu Intan? ” tanya balik Badri.
“iya Intan Intan itulah. Gimana kata dia? Dia mau jadi pacar lu? ” Tanya Bondan lagi. Tapi pertanyaan Bondan sepertinya tidak digubris  oleh Badri. Badri hanya diam seribu bahasa sambil memainkan sedotan yang ada di gelas berisi teh manis.
“woiii Bro jangan diem ajah gue nanya nih!” ujar Bondan membuyarkan lamunan Badri.
“oiaa iya..iya Dan. Gue lagi mau sendiri dulu Dan sory ya gue nggak mau diganggu dulu” ujar Badri segera meninggalkan Bondan.
“Badri..Badri gara-gara cewek lu jadi kaya gini” Bondan menggelengkan kepala sambil meminum jus mangga yang barusan ia pesan.

Diparkiran..
“Woii Bro lu mau pulang? Apa mau coba ke tempat jualan si Intan itu?”  ujar Bondan memberikan Saran ke Badri supaya mampir ke tempat Intan jualan.
“nggak usah Dan, gue mau pulang ajah” jawab  Badri lirih.
“yaudah kalo gitu. Lu hati-hati Bro, gue nggak mau lu gara-gara cewek jadi nggak ada semangat begini”
 Tanpa mendengarkan saran Bondan, Badri langsung pulang tanpa pamit kepada Bondan.

***
Seminggu berlalu..
Sore itu Badri bersepeda dengan sepeda fixie berwarna merahnya. Saat sedang melintasi jl kenangan Ia melihat sesosok perempuan memakai sweater merah. Perempuan yang selama ini Ia cari-cari. Iya itu dia intan. Intan berjalan sendiri di trotoar dengan tongkat yang membantunya berjalan. Badri segera mendekati Intan.
“ko Intan pake tongkat ya? Apa dia nggak bisa liat?” Tanya Badri heran.
“heii mbak Intan” panggil Badri ramah.
“hei juga, siapa ya ? ” ujar Intan.
“ini aku mbak yang kemarin beli mawar putihnya mbak. Ngomong-ngomong mbak mau kemana ? ”
“oh si mas yang beli bunga aku toh. Aku mau pulang nih mas, emang kenapa ya?” ujar Intan lagi.
“oh mau pulang, ikut aku yuk tan ke taman villa enak loh disana danaunya bagus. Kamu naik sepeda aku nih” Ujar Badri mengajak Intan sambil menunjukkan sepeda supaya mau ikut dengannya ke taman.
“maaf mas aku nggak bisa ngeliat apa-apa. Aku nggak bisa naik sepeda, aku pulang ajah maaf mas ya” ujar Intan menolak ajakan Badri.

Badri terkejut mendengar pengakuan Intan kalo dia tidak dapat melihat. Tapi Badri tetap suka dengan Intan walaupun Intan tidak dapat melihat apapun. Badri sangat menghargai pengakuan Intan tadi kepadanya. Bagi Badri fisik itu tidak penting yang penting adalah rasa sayang yang tulus. Buat apa fisik sempurna kalo hanya menyakiti? Iyakan? Lebih baik fisik cacat dari pada hati yang cacat.

“maaf tan aku nggak tau kalo kamu ngga bisa mel---” ujar Badri tidak melanjutkan kata-katanya karena tidak enak dengan Intan.
“oh nggak papa ko mas. Aku pulang ajah ya mas Dahhh!!”  Ujar Intan melanjutkan perjalanannya dibantu dengan tongkatnya.
“Tunggu tan!!” Ujar Badri menghampiri Intan.
“apalagi si mas? Aku mau pulang. Kalo mas mau jalan-jalan ketaman sendiri ajah ya mas” ucap Intan lembut.
“Ayodong Tan pliss sekali ini ajah ” ujar Badri sambil memegang lengan Intan.
“mm..yaudah deh aku mau tapi kali ini ajah ya?”
“yess!! Nah gitu dong”
“terus kamu naik sepeda? Aku jalan ? jahat ihh” tanya Intan.
“ya nggaklah ntar sepedanya aku tuntun ” jawab Badri sambil mengulurkan tangannya. “ayok jalan”
“iyaa mas”

Ditaman villa..
Mereka duduk di pinggir danau. Mereka berbincang-bincang seru hingga Intan curhat tentang ibunya yang meninggal seminggu kemarin karena sakit stroke. Oleh sebab itu selama seminggu dia tidak jualan karena harus pulang kekampung halamannya. Sekarang Intan tinggal dirumahnya bersama adiknya yang duduk dibangku smp kelas 3. Intan juga curhat ke Badri kalau ia ingin sekali bisa melihat seperti manusia biasa. Dulu waktu intan masih smp, Ia masih bisa melihat tapi karena matanya alergi dengan cahaya matahari lama-kelamaan matanya pun semakin rusak dan tidak bisa melihat. Walaupun tidak bisa melihat, ia sangat semangat dalam bekerja mencari uang untuk menafkai adiknya bersekolah. Karena ia tidak ingin terbelenggu dengan kebutaanya ini.
Mendengar curhatan dari Intan. Badri sangat sedih dan tersentuh hatinya untuk membantu. Tapi Badri bingung harus bantu apa? .
“oia tan kamu nggak mau operasi mata emang? Biar bisa melihat lagi gitu” tanya Badri.
“pasti si mau mas tapi saya nggak punya cukup uang untuk operasi. Boro-boro operasi makan ajah aku masih sulit” ujar Intan terlihat ia meneteskan air matanya. Ia sedih karena tidak bisa melihat seperti orang-orang lainnya.
“eh kenapa kamu nangis tan. Maaf kalo aku salah ngomong ya” ujar Badri sambil menyingkirkan butiran bening di wajah Intan.
Intan lalu  menyingkirkan tangan Badri yang berada diwajahnya “ngg.. nggak papa ko ayok kita pulang. Udah lama kita disini adik aku kayanya udah nunggu dirumah”  ujar Intan.
“yaudah yuk. Nih tongkat kamu. Aku antar ya sampai rumah?”
“nggak usah ko mas”
“udah nggak papa ntar kamu nyasar lagi ayok”
“yaudah deh kalo masnya maksa lagi”

***
Semenjak Badri jalan jalan dengan Intan ke taman. Ia selalu mampir ke tempat Intan jualan. Setiap hari ia selalu beli 1 tangkai bunga mawar. Dari benak hati Badri, ia sangat ingin membantu Intan untuk operasi. Oleh karena itu akhir-akhir ini Badri sedikit menyisihkan uangnya untuk membantu Intan. Sampai-sampai Badri rela kerja di sebuah toko makanan menjadi seorang pelayan. Badri memang sungguh-sungguh ingin membantu Intan supaya dapat melihat kembali.
Singkat cerita 1 tahun berlalu. Uang yang dikumpulkan Badri dari gaji, jual motor Honda tigernya dan semua tabungan sudah terkumpul semuanya 20 juta. Badri dengar-dengar dari teman-temannya kalau ingin operasi mata membutuhkan uang 30juta. Berarti 10 juta lagi yang harus dikumpulkannya. Badri sudah tidak punya uang lagi, satu satunya cara supaya dapat tambahan uang, dia harus pinjam.
Badri mencoca meminjam uang 10  juta oleh ayahnya. Walupun ayahnya pertama sulit untuk dipinjamkan uangnya tapi setelah dibujuk-bujuk oleh Badri akhirnya ayahnya meminjamkan 8 juta. “masih kurang 2 juta lagi!! Gue harus minjem ama siapa lagi?” tanya Badri dalam hati. “BONDAN!! Iya si Bondan gue haru minjem sama dia” ujar Badri dalam hati.
Keesokkan harinya Badri dipinjamkan uang 2 juta oleh Bondan walaupun Bondan ikhlas  nggak ikhlas ngasihnya tapi karena temen Bondan sepertinya ikhlas walupun sedikittttt…

Pagi ini sebelum berangkat sekolah Badri akan menyerahkan uang yang telah ia kumpulakan selama ini ke Intan.
Ditempat Intan berjual bunga…
“Tan, aku beli bunga ini nih ” ujar Badri sambil menunjukkan Bunga mawar putihnya walupun Intan tidak melihatnya.
“Bunga mawar putih pasti? Iya kan?” tanya Intan.
“hehehe tau ajah kamu”
“iyalah kamu kesini kan cuman beli bunga mawar putih doang”
“oia nih aku ada sedikit rejeki buat operasi mata kamu” Badri menyerahkan amplop coklat tebal berisi uang 30 juta ke tangan Intan.
“buat apa Dri? Aku nggak mau ngerepotin kamu mulu ah. Nih aku balikin” Intan menyerahkan amplop itu ke Badri lagi.
“tolong kamu terima tan, ini uang sudah aku kumpulkan hanya buat kamu. Aku ingin kamu bisa melihat lagi. Aku ingin kamu seneng tan, kalo kamu nggak terima aku akan marah seumur hidup sama kamu. Pliss tolong kamu terima uang ini. Aku sayang kamu tan” Ujar Badri sambil menggenggam tangan Intan.
“tapi aku ---” Intan tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia terlihat sedih hingga air matanya pun mengalir.
“udah dong jangan nangis ya. aku mau berangkat kuliah dulu bye Intan. Oia nanti kalo udah sembuh kita ketaman lagi ya. Kita ketemu lagi kalo kamu udah operasi oke” ujar Badri sambil meninggalkan Intan yang masih menangis terharu.

Singkat cerita 3 tahun berlalu. Badri pulang ke Indonesia setelah melanjutkan studynya di jepang. Ia ingin sekali bertemu dengan Intan. Sesampainya dirumah ia menjemput sepedanya lalu bergegas ke tempat Intan berjualan. Ia benar-benar sudah tidak sabar bertemu Intan. Selama 3 tahun terakhir ia selalu memikirkan keadaan Intan dan ini saatnya ia bertemu dengan pujaan hatinya itu walaupun belum jadian.
Tiba ditempat Intan berjualan. Badri diam tanpa kata melihat tidak ada apa pun di pinggir jalan yang biasa Intan menjajakan bunganya. Disana hanya terlihat halte bis yang 3 tahun lalu belum ada. Semuanya banyak pengalami perubahan setelah 3 tahun lamanya. Badri nggak tau harus ngapain lagi. Dia sandarkan sepedanya di depan halte lalu ia duduk. Badri seperti tidak ada semangat hidup lagi, sebenarnya ia pulang dari studynya untuk melamar Intan tapi sepertinya bukan jodohnya.
Badri pun bergegas pulang karena langit sudah terlihat gelap angin pun bertiup sangat kencang sepertinya akan turun hujan deras. Diperjalanan ia melihat toko bunga bernama INTAN FLOWER. Badri pun mampir ke toko itu, ia melihat lihat bunga bunga yang tersusun sangat cantik di rak-raknya. Seperti biasa Badri mengambil seikat bunga mawar putih.
“mau beli bunga mawar putih mas?” terdengar suara perempuan dari balik tubuh Badri.
Badri menengok kebelakang“intan?” ujar Badri terkejut melihat Intan.
“loh ko tau nama saya? ”tanya Intan heran.
 “Ini aku Bad---” sebelum Badri meneruskan ucapannya. tiba-tiba pria tinggi putih mengenakan jas menghampiri Intan”Sayang, ayok kita pulang. Tokonya udah dijaga sama tagor kamu nggak usah capek capek jaga toko hari ini” Ujar pria itu ke Intan.
Badri hanya tersenyum menahan sakit hatinya melihat Intan dengan pria itu.
“kamu kenal pria itu sayang?” ujar pria itu lagi sambil menunjuk ke Badri.
“nggak ko kita nggak saling kenal. Permisi saya mau keluar” seru Badri sambil meninggalkan Intan dan pria itu.
Intan membalikkan tubuh lalu melihat Badri yang keluar dari tokonya. Intan meneteskan air mata melihat Badri pergi dengan wajah yang sangat kecewa, ia sebenarnya tahu kalau itu Badri tapi apa mau dikata dia sudah milik orang lain dan nggak mungkin berpaling dari kekasihnya.
Badri mengayuh sepedenya dengan cepat. Hati Badri benar benar runtuh hancur berkeping-keping melihat Intan pujaan hatinya sudah menjadi milik orang lain. Sangking cepatnya Badri tiba tiba sulit mengendalikan sepedanya.
JEGEERR!! Badri tidak dapat menghindari lubang ditengah jalan. Badri tergelepak ke  aspal dengan tubuhnya yang berlumuran darah kepalanya pun terbentur hingga bocor. Badri di bawa kerumah sakit, tapi sayangnya semua itu terlambat. Nyawanya pun tidak dapat tertolong lagi. Badri meninggal dunia dengan meninggalkan kenangan yang pahit bersama Intan.

Tamat

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Pages

Super Stars

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Post

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Friendzone