123, Example Street, City 123@abc.com 123-456-7890 skypeid

Jumat, 08 Januari 2016

Sekilas Ungkapan Sepi



Bukan salahnya tidak mengungkapkan. Namun, kitanya saja yang tak mau bersabar untuk menikmati panjangnya jalan yang akan membawa kita ketempat yang indah disana.

Akhir-akhir ini gue jadi sering nongkrong di kafe yang menyediakan beragam susu aneka rasa. Mulai dari susu yang benar-benar murni sampai susu yang di mix dengan minuman bertenaga. Setelah minum susu yang bertenaga rasanya tubuh dirasuki ribuan tenaga kuda. Wow sekaleh. Bukan hanya susu yang mereka gembor-gemborkan dan menjadi tema kafe. Bermacam variasi kudapan yang mereka suguhkan tak kalah gokil dan nikmat. Jangan ragu, karena lidah kita akan dimanjakan dengan roti bakar, pisang bakar, sosis bakar, dan masih banyak lagi yang nggak mungkin gue sebutin, mau aja sih gue nyebutinnya tapi gue dapet apaan nih kalo nyebutin semuanya ? hahaha
Gue datang bersama beberapa teman. Biasanya kami datang pukul sepuluh malam. Kafe ini tutup jam 12 malam, namun faktanya sampai jam satu pagi orang-orang masih asik menikmati kafe ini. Memang bukan kafenya yang menarik atau desain interior dan eksteriornya yang membuat orang-orang betah untuk menempelkan pantatnya di kafe ini. Melainkan, hidangan non makanan dari kafe ini berikan kepada pelanggan yang memaksa gadget dan hati tak mau berpisah. Yap, kafe ini secara cuma-cuma menyuguhkan kami dengan wifi-nya yang super kencang. Sekencang tali BHnya Nikita Mirzani yang kuat menahan teteknya sehingga menjadi pengap. Sumpeh, nggak tahu bagaimana ceritanya kafe ini bisa punya wifi  sekencang ini. Mungkin  motor rossi masih kalah jauh dari kencangnya jaringan yang di miliki kafe susu ini. Meski puluhan bahkan ratusan orang mengaktifkan fitur wifi-nya. Nggak pernah sinyal berubah lemot malahan terus menerus menguat.
Gue duduk di area lesehan. Kafe ini menyediakan dua opsi tempat duduk. Ada lesehan yang ditempatkan di dalam kafe dan disediakan juga bangku kayu panjang yang bisa di tempati dua atau tiga pantat diluar kafe. Kafe ini berada dipinggir jalan, memudahkan menarik pelanggan yang sedang berada di jalan raya.
Melihat kedatangan kami dan duduk di salah satu meja yang kosong. Salah satu mas-mas datang ke meja kami.
“Selamat datang di susu murni uuuweiidan tenan” ujar pelayan tersebut dengan nada kental dengan aksen jawa.
Mas-mas pelayan itu berbalut kemeja hitam berpadu garis orange di kerah dan bagian kancing, serta gambar sapi di bagian dada kiri. Karena mas-mas pelayan ini badannya bongsor dan dadanya cukup besar untuk di grepek, membuat sapi yang bertengger disana terlihat seperti sapi glonggongan. Gendut-gendut gembrot. Ia memberikan bill dan daftar menu. Setelah memilih susu dan makanan yang sudah kami tulis di bill. Gue secepat kilat mengeluarkan laptop dari dalam tas, mencari colokan untuk mengisi baterai laptop yang sudah 1%, dan meletakkan fan coller dibawah laptop supaya menjaga laptop tetap dalam keadaan dingin saat digunakan.
Meyakinkan bahwa wifi sudah tersambung kedalam laptop, barulah gue berselancar didunia maya. Mengunjungi berbagai link yang menyediakan dengan gratis film dan lagu. Gue menikmati gratisnya layanan internet sambil mengudap roti bakar keju dan susu yang dicampur dengan ekstrajoss.
Berada di dunia maya memang melupakan sejenak perputaran jarum jam di dunia nyata. Sampai-sampai tidak terasa kafe susu ini hanya menyisakan kami dan satu orang cowok yang sepertinya sedang mengerjakan tugas kampus. Tatapannya begitu serius mengarah ke layar. Wajahnya bersinar tersorot sinar laptop. Tangannya begitu lincah mengetik satu persatu huruf di keyboard. Gue sudah merapihkan laptop. Teman-teman masih sibuk bermain game barunya di hape. Kami keluar dari dalam kafe, meminta bill lalu membayarnya di kasir kemudian kami duduk di luar kafe. Cowok yang tadi mengerjakan tugas masih ngebut mengetik, gue berpikir kalo dia ini adalah orang yang punya kafe. Alih-alih mengira dialah owner kafe, ketika satu per satu lampu kafe dimatikan ia langsung menutup laptopnya. Kepalanya menggeleng kecewa. Wajahnya melukiskan kegelisahan. Ah, ternyata dia bukan pemilik kafe dan gue yakin tugasnya belom kelar. Dasar lo penikmat wifi gratis! Sama kayak gue.
Kami duduk di depan kafe. Pelayannya pulang setelah menggembok rolling door. Gue mengambil satu batang rokok dari dalam bungkus lalu membakar dan menghisapnya. Menghembuskan kepulan asap ke dinginnya malam. Lalu kami menyalakan motor dan pergi dari kafe. Ditengah jalan yang sepi gue menikmati hempasan angin yang menerpa wajah. Berharap angin itu tidak merusak wajah gue yang telah kacau balau tata letaknya ini. Ditambah setiap hisapan rokok yang sedikit menenangkan jiwa meski asap yang keluar tidak setebal ketika duduk didepan kafe tadi.
Kami berpisah ditengah jalan. Menyisakan gue sendirian. Gue menatap lurus jalan raya sesekali menengok spion, jaga-jaga ada orang berbahaya atau kuntilanak yang nebeng sampai kuburan. Diantara tarikan gas yang gue genggam, dan hujan sinar lampu kuning jalan, tiba-tiba gue melamun. Sial, lagi-lagi keadaan ini membawa gue ke ruang hampa yang isinya hanya kegagalan.
Ternyata untuk mendapatkan cinta yang kita impikan perlu menikmati jalan panjang yang bernama proses
Proses percintaan gue datar-datar aja. Nggak ada yang special. Gue pernah mencoba untuk memberikan yang special, tapi hasilnya nihil. Hanya kecewa sebagai hadiahnya. Meski senyum dari dia tersungging, itu nggak menjamin kalau sayatan hati ini membaik.
Gue pengin sekali menjadi sebuah kafe. Menyuguhkan menu makanan dan minuman yang gue punya, meski bertajuk free wifi, setidaknya kita tetap perlu membeli salah satu kudapan. Seperti halnya gue, gue punya rasa sayang, perhatian, dan peduli untuk dia yang gue inginkan. Gue memberikannya secara gratis, tapi tidak mutlak gratis. Harus ada yang ia ambil dari gue. Yaitu, hati. Sedihnya disitu, hati gue nggak pernah diambilnya. Malah didiamkan begitu saja tergeletak hingga kotor diterpa becekan kubangan air jalan.
Jelas tertera di kafe itu, buka 12.00-00.00. Namun banyak pelanggaran yang dilakukan sampai harus jam 1 pagi baru tutup. Begitulah cinta bergulir. Sampai 24 jam penuh pun ia tetap tak mau singgah bahkan sekedar menikmati nyamannya hidup bersama gue. Dia justru pergi untuk memilih hati lain yang ia anggap lebih baik.
Gue melirik jam tangan. Pukul 00.36. Udara malam semakin menusuk menembus sweeter. Angin membelai rambut gue sampai acak-acakan. Poni gue berkibar, memberontak di dahi hingga menimbulkan geli-geli dimata. Gue tersadar dari lamunan. Lebih berkonsentrasi kearah depan. Melirik sekali lagi ke kaca spion. Aman.
Jalan sepi. Hati gue sepi. Jalan kosong. Hati gue kosong. Lampu jalan mulai redup. Semangat gue redup. Gue berhenti sejenak dipinggir jalan, menatap bulan yang membelah malam. Melirik kerlingan bintang yang bertaburan seperti butiran mesis diatas donat. Senyum merekah di wajah gue. Tak lama gojek lewat tanpa membawa penumpang, truk tronton menyusul, beberapa anak motor lewat dengan rapih beriringan. Gue menghela napas panjang, menghirup udara dingin ini. Memejamkan mata lalu membukanya. Kemudian gue menarik gas secepat mungkin meluncur ke rumah.
Sepi bukanlah fenomena yang abadi. Kalau ingin merasakan yang abadi, pegang tangan ini dan jangan ragu menerimaku. Bolehkah aku bersandar dihatimu hingga kekosongan ini menjadi keramaian yang indah ?

Selasa, 05 Januari 2016

Ini Saatnya


Masalah datang nggak tahu kapan, dimana, dan sedang apa kita saat itu. Jadi bersiaplah.
Beberapa hari yang lalu saat matahari masih ogah-ogahan untuk keluar dari peraduannya. Ayam-ayam masih tertidur karena begadang. Dan burung-burung masih malas mengepakkan sayapnya. Terdengar teriakkan panik seorang ibu-ibu dari luar rumah. Gue yang tidur di ruang tamu lantas mendengar teriakkan yang memekakan telinga itu.  Gue terbangun, melihat bokap bertelanjang dada dari kamar mandi hanya berbalut handuk merah yang bolong di bagian pahanya berjalan keluar rumah. Dibalik gerbang rumah bokap berjinjit melihat keadaan yang terjadi diluar rumah. Gue yang juga bertelanjang dada menghampiri bokap. Berdiri disampingnya.
“Ada apaan sih ?”
“Gas bocor! Gas bocor!” Teriak ibu-ibu yang terkenal sebagai ratu gosip seantero gang.
Ternyata gas bocor dari rumah tetangga gue yang berada enam petak dari rumah gue ke kiri. Gue keluar rumah. Melihat sepanjang gang dipenuhi kepulan gas yang tak terlihat tapi baunya begitu jelas menusuk hidung. Gue masuk ke dalam rumah lagi memakai baju dan keluar.
Ini bahaya. Ada percikan api sedikit saja akan menimbulkan ledakan yang besar. Apalagi sepanjang gang ini letak rumah-rumah berdempetan semua seperti kembar dempet. Nggak menutup kemungkinan akan terjadi kebakaran besar jika tidak secepatnya gas ini disapu habis. Gue panik. Bokap panik yang lalu pergi ke kamar mandi. Cepat-cepat mandi sampai lupa sabunan, shampoan dan gosok gigi. Eh, ternyata bokap nggak mandi. Dia Cuma pup sebentar, nggak tahan katanya. Biasanya kalo kayak gini nyokap adalah orang yang paling ribet dan pasti suka teriak-teriak nggak jelas. Suruh ini lah, itu lah, jangan kesana lah, jangan pake hot pants lah. Tapi justru saat ini malah bokap yang menggantikan posisi nyokap. Ribet ngemeng dan nggak ngelakuin apa-apa. Cuma bisa berteori. Entah karena dia hanya memakai sehelai handuk dan malu keluar rumah atau memang malas.
“Tutupin karung goni bu! ” ujar bokap dari balik pagar rumah. Namun sepertinya saran bokap tak didengar ibu gosip itu.
“Kenapa bisa bocor ? Cemplungin ke aer biar gasnya nggak semakin banyak keluar. Bilangin yang lain jangan pada nyalain api!” bokap terus ngemeng. Suaranya terdengar tapi wujudnya terhalang pagar rumah. Sayang sekali lagi-lagi bokap tidak didengar.
Tetangga semua keluar dari rumah. Ada yang mencoba membantu dengan mengibas-ngibaskan kepulan gas yang tak terlihat, ada yang menyiram udara dengan air, dan ada yang kabur menjauhi rumah sambil membawa harta benda yang bisa dibawa. Untungnya tidak ada yang menelepon kak seto.  Gue bertugas menjaga ujung gang. Berjaga-jaga supaya jika ada orang yang lewat agar tidak membawa rokok atau pun benda-benda yang memicu kebakaran. Gas 3 kg yang menjadi tersangka pada kejadian ini dibawa keluar rumah. Tetangga gue bernama Bang Madoy membawa seember air. Menenggelamkan gas tersebut di dalam ember dengan posisi terbalik. Gelembung-gelembung kecil tercipta dari dalam air. Namun bau gas yang sudah menyebar ke dalam rumah-rumah masih menjadi masalah. Sekitar tiga puluh menit, gang tidak bisa dilewati. Gang ini menjadi salah satu jalur utama yang sering di lewati para pejalan kaki jika ingin ke pasar. Akhirnya beberapa anak sekolah, ibu-ibu gosip yang mau belanja, dan bapak-bapak genit yang mau godain ibu-ibu tukang ikan di pasar terpaksa memutar arah lewat gang lain yang lebih jauh.
Tak lama setelah itu bau gas di dalam rumah gue hilang. Aroma gas di sepanjang gang juga tak terdeteksi lagi oleh indera penciuman. Gue masuk ke dalam rumah. Bokap masuk ke kamar mandi melanjutkan mandinya yang pending. Nyokap nggak lama datang membawa kantung plastik hitam yang berisi belanjaan.
“Kok ada rame-rame di luar ?” tanya Nyokap sambil membenahi belanjaan di konter dapur.
“Abis diserang gas 3 kg yang bocor di rumah Bu Gosip. Untung nggak meleduk” jawab gue sambil menadah air yang keluar dari keran dispenser.
“Gas ? tadi kayaknya pas mamak ke pasar nggak ada apa-apa ” nyokap heran “Terus gimana ?”
Gue mengangkat bahu setelah meneguk segelas air putih “Ya nggak gimana-gimana. Udah kembali seperti semula lagi”
Gue bergegas kembali ke tempat yang paling nyaman saat mata membutuhkan waktu untuk terpejam. Kasur. Saat ini kasurlah menjadi jawabannya. Gue menghempaskan punggung ke kasur. Tubuh gue terpantul akibat per yang ada didalam kasur. Gue merengkuh hape yang berada disamping bantal lalu menyetel lagu Hivi! – Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi. Mata gue terpejam. Kedua tangan gue silangkan dibelakang kepala menjadi penyangga meski sudah ada bantal. Gue terbenam dalam lirik lagu tersebut. Menyerap lantunan lagu lewat lubang telinga masuk keotak lalu turun dengan kecepatan 200 m/jam ke relung hati.
Dalam penjaman mata dan mulut gue tak bisa berhenti melantunkan lagu yang saat ini gue dengar.
“Siapkah kau tuk jatuh cintaaaaa..lagi ?”
Gue berdehem. Membuka mata. Mengingat ternyata gue sudah terlalu lama jauh dari anugerah yang bernama jatuh cinta. Lalu gue melihat langit-langit, mencoba mengingat terakhir kali gue jatuh cinta. Sudah lama sampai gue nggak tahu pastinya itu kapan. Jangan-jangan gue amnesia akibat kekurangan asupan cinta yang membuat gue menjadi gizi buruk dan takut untuk jatuh cinta.
Lalu teringat kembali kejadian gas tadi pagi yang membuat gue terbangun dari tidur. Kejadian itu benar-benar membangunkan gue dari tidur panjang gue semalaman. Kedatangan masalah gas bocor tadi hampir serupa dengan cerita cinta gue saat ini. Gue benar-benar tidur terlalu lama sehingga lupa untuk jatuh cinta. Lalu dibangunkan secara paksa oleh kerinduan akan kehadiran seseorang untuk singgah dihati.
Terakhir kali gue jatuh cinta endingnya menyedihkan. Gue ditolak sampai bersumpah tidak akan mencoba lagi untuk berjuang hanya karena cewek. Itulah masalah yang gue alami. Masalah gue saat ini adalah takut ditolak (lagi). Menghindari penolakkan itu gue memilih untuk menunggu. Dan itu salah. Menunggu adalah cara menghindari keberanian untuk memulai sesuatu. Gue terus menunggu sampai tubuh gue dipenuhi debu dan sarang laba-laba, bibir gue kering, kulit gue semakin hitam legam.
Setelah dipikir-pikir lagi yang harus gue lakukan saat ini adalah bangun. Cuci muka, mandi dan memulai. Hadapi masalah yang siap menerjang. Masalah itu harus dilewati bukannya dilihatin. Gue nggak bisa cuma melihat orang-orang bermesraan berpelukan dimana-mana. Mata dan hati gue nggak kuat melihat itu. Mendengar ucapan ayah-bunda, bebeb-ayank, cintaku-hatiku. Fungsi telinga gue bisa rusak kalau mendengar itu terus-menerus.
Kini gue sudah bangun dengan tubuh dan hati yang segar. Bersiap kembali untuk memulai. Melangkah maju menyapu masa lalu. Menerjang masalah dengan penuh perjuangan. Berani mendengar kata “Kayaknya kita temenan aja deh”, nggak masalah. Ditolak atau diterima urusan belakangan. Sekarang yang terpenting dan harus dijalanin adalah mencoba lagi.
Gue menyisir rambut gue di depan cermin. Belum kelar menyisir rambut. Di atas kasur hape gue berdering mengeluarkan suara Adam Lavigne bernyanyi. Gue menyergap dengan cepat hape itu lalu menekan tombol bergambar telpon berwarna hijau dari nomor asing.
“Halo ?” ucap gue bengong menunggu jawaban dari orang diseberang sana.
“Kal, apa kabar ?” terdengar suara cewek yang gue harap ini bukan operator atau penjaga kasir Pizza Hut.
“Baik. Sangat baik jika ini bukan gembong penipu mama pinta pulsa” gue tersenyum melihat bayangan gue sendiri di cermin.

Senin, 04 Januari 2016

Cerpenkal : Sakit yang Sama


Seandainya takdir bisa dirubah, pastinya Lala akan merubah takdirnya untuk bisa lebih jauh dan terlepas dari cowok yang selama ini selalu menjadi biang onar dirumah, disekolah, di jalanan, dan dimana pun dia berada disitu pasti ada kerusuhan. Cowok bernama Ega yang kini hidup satu rumah bersamanyalah yang menjadi beban dalam hidupnya selama dua tahun terakhir ini. Penyebabnya karena permasalahan rumah tangga di keluarga Ega yang mengharuskan Ega tinggal di rumah Lala. Meskipun Lala dan Ega tidak asing dengan satu sama lain, Lala sama sekali tidak menyukai sifat Ega yang arogan, keras, perokok, peminum, suka tauran, sering masuk kantor polisi. Tidak jarang ayah Lala mengeluarkan kocek besar dari sakunya untuk mengeluarkan Ega dari kantor polisi karena terlibat tauran antar sekolah. Itulah alasan kenapa Lala begitu kesal dengan Ega dan selalu menganggapnya tak ada.
-------------
Ega keluar dari kamar dengan menggendong tasnya yang di gantung di bahu kanannya. Seragam sekolah yang ia kenakan tidak dimasukkan kedalam celana, kancing terlepas satu keping dibagian atas memungkinkan baju dalamannya warna merah terlihat, celana abu-abu yang di desainnya sendiri sehingga menjadi lebih ketat juga tak lagi mencerminkan anak sekolahan karena banyak jahitan bekas sobekan benda tajam dan lubang-lubang kecil yang dibuat oleh percikan bara rokok. Tanpa menggubris Ibu Lala, Ayah Lala, dan Lala, Ega langsung melengos keluar rumah tanpa pamit sambil membakar sebatang rokok lalu menghembuskan asap dari mulutnya ke udara. Perilaku kurang ajar yang dibuat Ega membuat Lala menggeram dan menusuk-nusuk roti tawar yang diolesi selai stroberi kesal.
‘Kenapa sih anak itu masih ada disini ?! ’ dengus Lala lalu memandangi kedua orang tuanya.
Ayah dan Ibu Lala saling bertatapan “Ada alasan tertentu kenapa ayah dan ibu mengizinkan Ega tinggal dirumah ini. Untuk itu ayah minta tolong kepada kamu untuk bisa menerima keadaan ini sebentar sampai Ega bisa menghidupi dirinya sendiri “ jelas ayah Lala.
“Tapi kenapa harus dirumah kita ? memangnya dia nggak punya sanak saudara ? Aku muak yah kalo tiap hari harus melihat dia. Belum lagi kalau dia sudah pulang malam dan aku harus membukakan pintu untuknya! Aku pengen dia pergi dari rumah ini cepat atau lambat” kesal lala membanting pisau dan garpu yang ia gunakan untuk melahap roti dipermukaan piring sehingga menimbulkan bunyi dencingan keras.
“Lala, coba kamu mengerti dan dengerin kata-kata ayah. Ibu juga tahu apa yang kamu rasain. Tapi kita tetap harus menjaga Ega sebagaimana Ibu menjaga kamu. Ega memang punya tujuan lain dalam hidupnya, karena tujuannya berbeda dengan tujuan hidup kamu makannya kamu tidak suka dengan keberadaan Ega dirumah ini. Ega sekarang hidup sebatangkara. Nggak punya siapa-siapa lagi di hidup Ega saat ini. Cuma kita, apalagi orang tua Ega dulu sangat baik dengan keluarga kita, sudah sepantasnya kita kasih Ega hidup yang layak seperti anak-anak lain’’ ujar Ibu Lala dengan nada lembut yang mencerminkan sifat keibuannya yang begitu melekat didalam dirinya. Sehingga penjelasan yang dilontarkan Ibu Lala membuat Lala sendiri menjadi sedikit berubah pikiran namun ia tetap tidak ingin akrab dengan cowok begajulan itu.
“Hmm..okelah kalo Ibu dan Ayah masih berpikiran seperti itu. Aku berangkat” Lala menyalimi kedua orang tuanya lalu pergi ke sekolah.
Sebelum beranjak dari ruang makan ayah Lala memanggil Lala. Langkah Lala berhenti lalu menoleh kebalik punggunya dan menatap ayahnya.
“Kenapa ?” Tanyanya.
“Tolong jaga Ega. Dia sebenarnya anak yang baik, setidaknya bukan untuk saat ini. Kamu pasti bisa merubah dia lebih dari yang kamu pikirkan sekarang” ucap Ayah Lala serius dengan tatapan penuh harap.
“Mungkin. Jika dia tidak membuang puntung rokok ke kamarku lagi” ujar Lala dan segera pergi sebelum ayah atau ibunya memanggilnya lagi untuk terus-menerus menyuruhnya menjaga Ega.
-------------------
Bagaimana mungkin Lala bisa bertahan dengan keadaan seperti ini. Dua tahun, waktu yang cukup lama untuk bertahan dalam kehidupan dengan orang yang selalu berbuat onar. Biangkeladi keributan seperti Ega itu. Apalagi disekolah banyak yang menganggap mereka adik kakak, itu yang membuat Lala cukup menahan emosinya dalam-dalam.
Usai bunyi bel pertanda pelajaran hari ini selesai Lala keluar sekolah dengan teman-temannya. Menunggu angkutan umum di halte. Bising klakson mobil dan motor memekakkan telinganya. Meskipun telinganya sudah disumbat dengan kedua telapak tangannya, suara klakson masih tetap mengganggu kedamaian gendang telinganya.
Lala dan teman-temannya mencari penyebab sumber suara bising ini. Keadaan jalan raya tiba-tiba macet. Lala bingung dan juga heran. Ia melihat segerombolan anak-anak satu sekolahnya ramai-ramai berlarian kearah segerombolan anak sekolah yang tidak ia kenal sambil membawa senjata tajam seperti pedang, celurit, gear yang diikat dengan sabuk. Lala panik dan juga teman-temannya. Melihat keadaan yang tidak kondusif, ia dan teman-temannya segera berlarian masuk kedalam sekolah supaya lebih aman. Sampai di depan gerbang, Lala kembali melihat segerombolan anak-anak itu sudah saling beradu ketangkasan dengan senjata yang mereka gunakan. Di bagian depan gerombolan sekolahnya ia melihat cowok yang tidak asing di matanya. Cowok yang membuatnya sering beradu mulut dengan orang tuanya. Cowok yang selalu mengambil uang jajannya jika diletakkan diatas kulkas. Ya, Ega dengan pedang yang ia pegang ditangan kanannya sedang mengadu ketangkasan illegal. Melihat Ega disana, Lala menyukuri supaya Ega kena senjata tajam dari musuh. Supaya kapok.
Lala mendengus kesal. Mengucapkan sumpah serapah kepada Ega yang lagi-lagi berbuat onar.
“Mati aja kek lu sekalian” Dengusnya lalu masuk kedalam sekolah.
Keributan selesai setelah polisi yang dibantu warga setempat datang mengamankan para pelajar yang dianggap sebagai profokator tawuran. Salah satunya Ega, karena kejadiannya tepat didepan sekolah, Ega segera di adili di tengah lapangan dengan telanjang dada. Ia disuruh memutari lapangan basket sambil berjalan jongkok. Bersama-sama dengan musuhnya tadi  mereka malah terlihat akrab. Kemudian mereka dihukum untuk berdiri tegak di depan tiang bendera dan hormat selama satu jam dibawah terik matahari. Tanpa istirahat.
Lala melihat Ega dihukum merasa senang dan puas. “Kapok kan lo!”
Setelah hukumannya selesai Ega dan yang lainnya dipersilahkan pulang dan ia mendapat surat peringatan untuk yang kesembilan kalinya. Tinggal satu surat peringatan lagi Ega harus keluar dari sekolah. Surat yang dimasukkan kedalam amplop putih itu langsung di robeknya kecil-kecil lalu dibuang kedalam tong sampah.
Di halte ia duduk, menyisir rambutnya dengan tangan lalu mengambil rokok yang berada dikantungnya dan menyulutkannya dengan korek gas. Hembusan asapnya membuat Lala yang berada disampingnya terbatuk-batuk.
“Uhuk..uhuk” Lala menutup mulutnya lalu menatap sadis kearah Ega.
Ega melihat Lala yang batuk tidak meminta maaf atau tersenyum. Ia menganggap biasa. Lalu menghisap rokok itu lagi. Dan menoleh kembali kearah Lala.
“Kok lo masih disini ?” tanya Ega.
“Bukan urusan lo!” jawab Lala dengan nada keras.
“Bagaimana mungkin anak rumahan kayak lo mau lama-lama disekolah karena bukan suatu alasan. Gue yakin lo nungguin gue ya ? hahahaha ” Ega tertawa meledek membuat muka Lala memerah malu.
“Dih pede banget lo” dengus Lala.
Sebenarnya Lala memang menunggu Ega sampai Ega selesai dihukum. Ia rela ditinggal temannya untuk melihat Ega selesai dihukum. Lala memang sangat puas ketika melihat Ega dihukum, namun di sisi lain Lala punya perasaan kasihan kepada Ega yang tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Ega hanya akrab dengan kekerasan. Minuman keras, rokok dan narkoba. Tapi entahlah, Lala tidak tahu pasti apakah Ega menggunakan narkoba. Yang pastinya jika memang Ega adalah seorang pecandu narkoba. Itu bukan sepenuhnya urusan Lala.
Tidak lama setelah itu segerombolan teman-teman Ega datang dengan motor yang menggunakan knalpot racing. Membuat rusak telinga Lala sekali lagi.
Ditengah bising knalpot teman-teman Ega meneriakkan namanya. Ega melambaikan tangannya sambil berdiri. Menghempaskan rokok ke tanah dan menginjaknya. Mengambil kaleng bir yang berada di dalam tas lalu meminumnya. Kemudian Ega menghadap kearah Lala yang sedang duduk memperhatikan Ega dengan teman-temannya yang menjadi sumber bising.
“Kayaknya gue pulang malam. Tolong pastiin pintu nggak lo kunci kayak kemaren. Sampe –sampe gue harus manjat ke kamar lo” Ujar Ega setelah meneguk bir.
“Nggak usah pulang malem kalo nggak mau dikunciin!” Lala menyilangkan tangannya di dada menatap Ega dengan raut wajah kesal serta matanya menyipit.
“Ya terserah lo sih kalo mau dilempar puntung rokok lagi” Ega pergi melompat ke jok motor temannya dibagian belakang. Membanting kaleng bir yang sudah habis ia minum ke jalanan.
“Ishhhh….anak brengsek!” Dengus Lala.
-------------
Kali ini Ega  pulang lebih awal. Suatu rekor yang harus ia banggakan untuk dirinya sendiri karena mampu pulang jam 5 sore dari sekolah. Biasanya Ega pulang jam 12. Harus menyelinap atau memanjat ke kamar Lala untuk dibukakan pintu. Kali ini dengan alasan kepalanya yang pusing karena terkena hempasan batu di dahinya saat tawuran tadi, ia pun beristirahat lebih awal dari biasanya.
Sampai dirumah ia terkejut ketika melihat pot-pot bunga berjatuhan tak keruan. Tanah-tanah berserakan. Ega menuduh kucinglah sebagai pelakunya. Pintu rumah juga masih terbuka. Kali ini Ega mencurigai kalau rumah Lala habis kemalingan. Ia segera masuk kedalam rumah berteriak “Maling dimana lo ?!” namun tak ada jawaban atau bunyi-bunyi yang mencurigakan. Mungkin malingnya sudah pergi. Tidak peduli barang apa yang hilang karena diambil maling, Ega langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruang tamu. Menengadahkan kepalanya yang berdenyut-denyut hebat. Membuatnya menggeram sesekali.
Ia renggut remot yang tergeletak bebas di atas meja. Menyalakan saluran televisi dan menonton kartun spongebob. Walaupun sifat yang keras dan selalu akrab dengan perkelahian. Ega tetaplah manusia yang suka dengan hiburan apalagi kartun. Jadi, sebenarnya rada tidak cocok buat Ega.
“Hahaha goblok bat petrik” Ega tertawa dengan tingkah laku patrick yang konyol dilayar televisi bersama spongebob.
Ditengah-tengah film spongebob yang ia tonton. Terdengar suara isak tangis dari balik dapur. Suara perempuan menangis yang membuat Ega merinding. Ega yang penasaran dengan suara itu langsung bergegas menelusuri sumber suara. Dari ruang tamu ia terlebih dahulu mengambil alquran jaga-jaga jika itu makhlus halus dan membawa remot untuk memukul bila itu maling yang pura-pura nangis.
Sampai di dapur tak ada siapa-siapa. Namun suara tangisan itu semakin keras dan jelas terdengar. Ega mendekatkan telinganya ke tembok kamar mandi. Mendapatkan bahwa sumber suara itu dari dalam kamar mandi. Ia mendobrak kamar mandi itu sehingga menimbulkan bunyi “brak”. Ia kaget bukan kepalang. Langkahnya mundur satu langkah melihat Lala yang sedang terpekur duduk menangis tersedu-sedu. Menenggelamkan wajahnya diantara pahanya. Tubuhnya sangat basah berlumuran air. Rambutnya acak-cakan tak keruan.
Ega masuk kekamar mandi mencoba memegangi pundak Lala “ Eh goblok, ngapain lo disini ? Lo mau berenang ? ” ujarnya namun tak didengar oleh Lala. Ega mencoba menggoncang-goncangkan tubuh Lala “Woy sadar woy!! Lo udah gila atau bagaimana sih ?!! Lala!! Jangan bikin gue panik dah lo. Kalo mau mandi buka baju lo, jangan malah nangis!”
“Lala, dengerin gue nggak sih lo?!”
Ega menggelengkan kepala. Menghela napas panjang lalu ia mendapati handuk dan membalut tubuh Lala yang basah kuyub. Lala tidak mau beranjak dari kamar mandi. Terpaksa Ega menggendong Lala lalu membawanya ke kamar dan membaringkan tubuh Lala yang lemah diatas kasur. Ega ke dapur dan membuatkan teh manis. Bodohnya Ega lupa menambahkan gula kedalam teh manis. Ia pun mondar-mandir dari kamar ke dapur.
Lala sudah berhenti menangis namun ia tidak sadarkan diri. Ketika sadar Lala lagi-lagi menangis, Ega semakin bingung dengan Lala. Disuruh minum tidak mau. Disuruh makan juga tidak mau. Akhirnya Ega meninggalkan makanan dan minuman di samping kasur Lala dan meninggalkannya sendiri.
-------------
Ega terbangun dari tidurnya di atas sofa. Ia mengucek-ngucek matanya seraya menyadarkan dirinya yang belum sepenuhnya sadar. Ia melihat tivi saluran sepakbola. Menggantinya ke serial spongebob, dengan mata yang masih ngantuk ia menonton film kartun kesukaannya itu. Tiba-tiba ia teringat Lala. Dengan cepat ia berlari ke kamar Lala. Ia menaik turunkan engkol pintu namun terkunci dari dalam.
“Sial! Maunya apaan sih nih bocah !” dengusnya sambil mengetuk-ngetuk kamar Lala “Lala, buka pintunya ! Jangan sampai gue rusakin ini pintu dan bokap lo beli dengan harga mahal”
Tidak ada jawaban dari dalam kamar Lala. Ega mondar-mandir didepan pintu, mencoba berpikir. Tangannya menggaruk-garuk kepala berharap ide itu datang. Bukan ide yang datang ia malah semakin panik dan lagi-lagi mengetuk-ngetuk pintu kamar Lala dengan keras.
Ega lalu berlari ke kamar orang tua Lala. Namun disana tidak ada siapa-siapa. Kosong. Kasurnya masih rapih seperti dua hari tidak pernah disentuh. Kemana sih nih orang berdua. Ujar Ega dalam hati kesal.
Lagi-lagi Ega harus memutuskan untuk merusak fasilitas dirumah ini. Sudah tidak terhitung berapa banyak bagian dari rumah ini yang Ega hancurkan. Tetapi kali ini meskipun Ega merusak pintu kamar Lala ia punya alasan yang kuat untuk tidak benar-benar merasa bersalah. Dengan ancang-ancang dan ucapan satu, dua ,tiga. Tendangan keras ia hempaskan ke pintu kamar Lala dan terbuka. Bunyi keras ketika pintu itu menggetarkan tembok.
Ia masuk kekamar Lala. Tanpa disadari Lala langsung menodongkan pisau ke tubuhnya. Ia mundur. Mencoba menenangkan Lala.
“Buset! Lala, maksud lo apa ? lo mau bunuh gue ? lo bener-bener udah gila ! Dasar cewek nggak waras!” Ega berteriak sambil mundur berhati-hati jika Lala benar-benar akan menusuknya.
“Coba, tenangin diri lo La. Jangan biarkan kegilaan ini menguasai lo. Lo kenapa sih ? Bilang sama gue bilang” Ega mencoba mengulurkan tangannya ke lengan Lala.
Lala menyodorkan pisau itu ke dada Ega. Ega mundur dan sekarang ia berada di luar kamar Lala.
“Lo nggak akan ngerti” akhirnya keluar kata-kata dari mulut Lala setelah terakhir kali ia dengar satu hari yang lalu.
“Gue ngerti. Gue ngerti kok tapi tolong turunin dulu pisau itu. Bahaya La, itu bisa bunuh gue atau bahkan lo sendiri yang mati”
“Biarin gue mati! Ini yang mereka mau!” Lala menyodorkan sebilah pisau itu ke tangannya berancang-ancang akan menyayat urat nadinya “Kalau ibu dan ayah pergi. Gue juga harus pergi!”
Dengan cepat Ega menahan tangan kanan Lala yang digunakannya untuk memegang pisau. Ia tarik tangan Lala dan memukul pisau itu hingga jatuh ke lantai. Ia tendang pisau itu menjauh dari Lala membuat kakinya berdarah tersayat pisau yang ternyata sangat tajam. Lala terus mencoba melepas ikatan tubuh Ega. Ia uring-uringan dan meraung seperti orang gila. Ega menutup mulut Lala dengan telapak tangannya. Lalu dengan satu gerakan ia mendekap tubuh Lala kedalam pelukannya. Hangat terasa ditubuh Lala. Tak sadar Lala terdiam merasakan nyamannya pelukan Ega yang hangat.
Ega mendekatkan bibirnya ke telinga Lala “Lo nggak sendiri. Masih ada gue disini”

-------------
“Gue lihat ada baygon dikamar lo. Mau coba bunuh diri dengan obat nyamuk ? ” Ega menoleh ke wajah Lala yang tampak kosong memandang pohon-pohon di halaman belakang Lala dari balkon kamar Lala “Wah.wah.wah jadi sekarang lo udah ngerasa baru jadi manusia nyamuk ya ?” Ega tertawa.
Lala menatap pohon rindang yang sudah tumbuh sejak ia kecil yang masih berdiri gagah. Tatapannya kosong. Bibirnya pucat “Seharusnya gue udah mati sekarang”
“Tapi karena ada gue, lo nggak jadi mati sia-sia. Untung aja gue datengnya tepat waktu sebelum gue membaca berita di koran besok. Seorang cewek gila mencoba mencicipi obat nyamuk karena kehabisan air putih dirumahnya” ujar Ega lalu tertawa.
“Gue cuma nggak bisa nerima kenyataan kalau ibu dan ayah bakal cerai. Gue nggak percaya! ini pasti mimpi” air bening menetes di kelopak mata Lala “Lebih baik gue mati daripada harus menerima kenyataan pahit kayak gini”
“Lemah lo!” bentak Ega kemudian menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Gue kira lo orangnya kuat. Selama ini gue hidup serumah sama lo, gue pikir lo orang yang tahan banting. Tapi karena masalah kayak gini aja lo langsung pengen bunuh diri”
“Lo tahu apa tentang masalah ini ?” Lala menengok kearah Ega yang sedang menatap langit biru.
“Gue tahu banyak. Lebih banyak daripada apa yang lo tahu saat ini. Lo melihat gue hanya dari pandangan lo. Dibalik keburukan gue ini, gue menyimpan kerja keras buat diri gue sendiri. Itu alasan bokap lo mempertahankan gue disini. ” Ia berhenti sejenak menghabiskan isapan terakhir rokoknya lalu membuangnya ke halaman belakang. Ia hembuskan gumpalan asap itu seraya menatap Lala yang masih tampak kecewa.
“Asal lo tahu, selama ini gue tinggal dirumah lu hanya untuk berteduh. Gue bekerja setelah pulang sekolah. Nyari uang buat makan dan masa depan gue nanti. Gue punya harapan buat nggak mau ganggu keluarga lo. Sampai uang itu terkumpul gue bakal pergi dari sini. Semenjak nyokap gue pisah, dia jadi gila. Bokap pun udah meninggal setahun lalu. Dan gue anak tunggal. Sodara-sodara gue pergi nggak tahu kemana, mereka seperti nggak menganggap gue ada. Mau nggak mau gue harus berjuang kayak gini.”
“Lalu ? Kenapa lo ngerokok, mabok-mabokan, dan tawuran ? pasti itu karena lo frustasi dan pengen ninggalin kenyataan lo” ujar Lala penuh pertanyaan.
“Gue ngerokok karena ini pilihan hidup gue dan gue suka minum bir karena itu yang membuat gue lebih tenang sehingga bisa melupakan sejenak kerasnya hidup. Setidaknya gue nggak pernah berniat buat meminum baygon. Bisa mokat gue, nanti hahaha ” ledek Ega yang disambut tinjuan kecil di lengannya dari Lala “Lalu kenapa gue suka tawuran ? itu sih bukan hobi. Jujur gue nggak suka tawuran sama sekali. Tetapi mereka-mereka yang membuat gue terjun ke dunia itu. Setidaknya dengan gue ikut tawuran bisa membuat mereka tahu rasa jika sekali-kali kena senjata tajam itu rasanya sakit.”
“Gue nggak ngerti jalan hidup lu ? dan lo kerja apa selama ini kok gue nggak tahu ?”
Ega mengambil sebatang rokok dari bungkusnya lalu membakarnya “Gue kerja di bar. Lumayanlah gajinya buat kuliah setelah lulus nanti. Dan jalan hidup gue itu ke depan. Melupakan semua masa lalu yang kelam. Menenggelamkan semua itu ke dasar yang paling dalam. Gue nggak mau keliahatan cemen apalagi di depan orang bodoh kayak lo yang terlalu lemah lalu mencoba bunuh diri”
Lala mengepalkan tangannya, darahnya mengalir begitu cepat ketika sadar ia dianggap lemah oleh cowok onar yang sekarang justru menjadi penenang hatinya “Apa mungkin gue masih bisa ngejalanin hidup gue seperti biasa tanpa kehadiran mereka berdua ?” tanya Lala.
“Pasti. Pasti lo bisa, meskipun tanpa mereka seharusnya lo bisa menjalani hidup ini. Apalagi mereka masih hidup. Lo tunjukkin ke mereka berdua kalo lo bisa jadi anak yang baik dan berprestasi. Nggak jadi anak broken home yang langsung terjun ke dunia gelap. Ngumpung lo masih ada di dunia yang terang tanpa kegelapan, sekarang waktunya lo buat berjuang ”
“Berjuang seperti apa ?” Lala bingung.
“Ya, berjuang. Seperti menghilangkan baygon dari daftar minuman lo hahahaha “ Ledek Ega lagi. Lala mencubit perut Ega kencang-kencang hingga membuatnya mengerang kesakitan

Minggu, 03 Januari 2016

Cerpenkal : Secarik Pertemuan Singkat



Instagram, salah satu media social yang sedang buming saat ini. Banyak para remaja, orang tua, bahkan kakek nenek pun menggandrungi media social yang lebih dominan meng-update foto dan vidio ini. Bukan hanya pamer-pamer wajah tebal dengan bedak berukuran 5 cm, Instagram juga menjadi salah satu pasar online bagi para pedagang yang tidak ingin repot-repot buka lapak dagangan di pinggir jalan.

Aku mengusap layar handphoneku keatas, melihat postingan dari sebagian followersku di timeline Instagram. Ada vidio lucu yang membuatku tertawa, ada pula foto-foto cowok ganteng yang pasti aku like tak jarang juga aku screncapture lumayan buat dijadiin wallpaper. Tapi tingkahku menyimpan foto-foto cowok ganteng bukan kearah yang porno. Itu hanya sekedar hobi, aku rasa hobi ini cuma aku yang memiliki. Sedetik kemudian aku berhenti menurunkan timeline, aku stuck di salah satu account Instagram teman satu sekolahku bernama Koko. Koko itu kalo disekolah termasuk jajaran cowok-cowok keren yang banyak didemenin cewek-cewek, itu semua nggak lepas dari predikatnya sebagai kapten basket sekaligus ketua osis. Ih, perfect deh pokoknya. Sayangnya dia udah punya pacar.

Aku iseng menekan kalimat comment untuk melihat komentar yang jumlahnya ada dua puluh satu. Ada pula komentar yang membuatku tak berhenti tertawa yaitu komentar dari account obat kuat yang menawarkan pembesaran alat vital. Aku tak bisa membayangkan jika Kok benar-benar berhasrat mengorder obat itu. Aku yakin barangnya akan lebih besar dari pentungan satpam.

Selain tukang obat kuat ada juga salah satu akun yang membuat aku penasaran untuk segera mengunjungi profil instagramnya. Nama akun tersebut ‘Kenzko’ , namanya lumayan keren untuk ukuran anak remaja karena tidak menjurus ke nama-nama alay yang membuat aku kadang kala ingin muntah. Aku bertanya-tanya siapakah ‘Kenzko’ ini, ya, pastinya teman Koko. Pasti ganteng, toh Kokoh juga ganteng. Ah, buruan deh aku tekan tulisan ‘Kenzko’ dan aku dibawa ke dalam profilnya yang tidak dikunci. Wow, followersnya banyak juga, ada 2893. Hitz juga nih cowok. Aku tekan Follow disamping foto profilnya lalu terbesit dipikiranku untuk stalk nih profil. Sedetik kemudian aku meluncur keseluruh foto-foto yang keren dan ganteng-ganteng banget di profilnya. Dilihat dari beberapa fotonya, dia ternyata penggemar berat Manchester United. Dari foto Wayne Rooney cs yang ia posting sangat menggambarkan kalo dia pecinta  Manchester United yang fanatik. Begitu juga foto saat ia sedang nobar bersama teman-temannya mengenakan jersey Manchester United sambil mengibar syal bertuliskan Manchester United diatas kepalanya. Cool.

Aku nggak bisa menahan senyum ketika melihat salah satu postingan fotonya yang keren abis. Foto itu saat ia sedang di bibir pantai memakai kaca mata hitam, bibir bawahnya digigit, dan alisnya diangkat keatas. Masyallah, tuhan maafkan hambamu ini yang terlalu mengagumi manusia ciptaanmu yang gantengnya naujubileh.
----------------

Di kelas saat pelajaran fisika aku tidak terlalu memperhatikan Bu Nia menjelaskan tentang aliran air yang harus dihitung ketika melewati pipa yang diameternya kecil atau besar. Saat ini yang membuatku lebih perhatian adalah instagramnya Kenzko yang ternyata mem-Followback Instagram-ku. Aku tak kuasa menahan kegembiraanku ini. Sampai-sampai aku tak sengaja berteriak ‘Yessss!’ hingga membuat seisi kelas menatapku tajam. Apalagi tatapan Bu Nia lebih tajam daripada pedang samurai. Aku hanya bisa tersenyum malu. Lalu Bu Nia menanyakan pertanyaan kepadaku dengan matanya yang masih membelalak.

‘Zizi!, Coba tolong jelaskan bagaimana rumus mencari kecepatan  aliran air ketika melewati pipa yang berdiamer 45 ?’ tanya Bu Nia.

Mampus dah. Sialnya aku berteriak disaat-saat seperti ini. Aku hanya bisa pelanga-pelongo, membalik lembaran buku paket fisika berharap menemukan rumus yang diminta Bu Nia, dan aku juga menengok kearah teman-temanku sekaligus berharap ada yang memberikan belas kasihan kepadaku untuk memberi tahu rumus kecepatan aliran air. Namun sepertinya teman-temanku sengaja tidak melihatku. Oke, fix kalian jahat.

‘Nggak tahu bu’ aku menggaruk-garuk kepala sambil berpura-pura mencari rumus dibuku paket.

‘Keluar!’ teriak Bu Nia menunjuk ke arah pintu menyuruhku keluar dari kelas. Tanpa banyak pembelaan dan basa-basi yang hanya memperlambat waktu pelarajaran, aku segera berdiri dan keluar. Gapapa lah, setidaknya aku bisa lebih lama bermain-main instagram di luar kelas. Terimakasih Bu Nia.

---------------
Kabar baik bagiku hari ini, meskipun tadi di sekolah harus keluar saat pelajaran fisika. Ternyata itu awal dari keindahan hari ini. Aku percaya setelah badai akan muncul pelangi. Seperti yang terjadi denganku saat ini, setelah aku dikeluarkan dari kelas. Aku iseng chat Kenzko lewat fitur chating yang disediakan Instagram. Tak lama ketika aku chating, dia langsung balas. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu sedetik pun. Aku pun chatingan lewat instagram, namun Kenzko kurang suka chatingan via Instagram. Akhirnya ia memberikan Id Line. Tanpa harus diminta, dia yang memberikan. Voila!

Kami chatingan dari aku pulang sekolah. Di halte saat menunggu kopaja aku chatingan, di dalam kopaja aku chatingan, saat diminta uang oleh kondektur aku tidak menggubris sampai kondekturnya kesal, itu semua karena si Kenzko. Informasi yang aku dapatkan dari chat dengannya ternyata nama asli Kenzko itu adalah Keni dan dia anak futsal. Dia sekolah di SMA Tanujaya, jaraknya tidak jauh dari sekolahku, bisa ditempuh pakai gojek atau bajaj. Sepuluh menit lah. Usut punya usut ternyata Kenzko itu kakak sepupunya Koko. Pantas ganteng, ternyata satu pabrik toh. Dan yang paling membuatku senang adalah dia mengucapkan Good Night untukku. Bagiku ucapan selamat malam dengan bahasa inggris sensasi membacanya lebih terkesan romantis. Aku pun tertidur lelap dalam bayang-bayang wajah Kenzko yang ganteng.

------------

Aku duduk di depan cermin rias di dalam kamarku. Menatap wajahku yang kayaknya sudah cantik. Aku memakai bedak di wajah, kuratakan dengan telapak tangan. Lalu menyemprotkan hairspray ke rambutku supaya tidak berantakan ketika tersapu angin. Aku berdiri didepan cermin, memastikan dress yang aku pakai untuk bertemu dengan Kenzko hari ini pas membalut tubuhku yang langsing meski tidak terlalu tinggi. Maklum cuma 155 cm. Sulit untuk jadi pramugari, ya, mentok-mentok aku palingan jadi pramuniaga.

‘Aku udah di depan nih. Gercep  pesan line dari Kenzko yang sudah tiba di depan rumahku.

Pesan itu sungguh membuatku panik. Aku tidak mau di cap ngaret sama orang yang baru aku kenal apalagi yang mengecap itu seorang Kenzko, si ganteng dari goa hantu. Aku hantunya hehehe. Aku sergah tas jinjingku, lalu mengalungkannya di lengan. Kemudian melangkah dengan cepat keluar kamar.

Aku keluar gerbang ketika Kenzko sedang sibuk menatap layar hapenya diatas motor.

‘Halo’ sapaku seraya menyunggingkan senyuman semanis mungkin.

Wajah Kenzko berkerut. Ia melihat ku dengan tatapan ‘Nih orang ngapa dah ?’. Ia merasa aneh dengan penampilanku. Setelah melihat ku dari ujung kaki hingga unjung ubun-ubun, matanya memicing ke arahku tajam. Tatapannya tak bisa ku bayangkan, ganteng pisan euy!!

‘Kok pake dress ?’ tanyanya heran.

‘Kan kita mau ngedate’ jawabku.

‘Kan kemarin aku bilang kita mau nobar bola’

‘Yah aku salah pake baju dong ?’ wajahku tiba-tiba berubah jadi cemberut brutal ‘Lagian aku juga nggak punya baju bola. Aku ganti aja kali ya, aku pinjem baju bola bokap deh’ aku langsung membuka gerbang namun segera Kenzko menghalangi ku untuk masuk kembali kerumah.

‘Eitss..eh gausah ganti. Kamu pake jaket aku aja ini. Keliatan sporty juga kok. Lagian kamu ada-ada aja sih pake baju pesta buat nobar’ Kenzko megulurkan jaket Manchester United warna merahnyanya lalu aku ambil dan aku pakai. Hari ini aku sepertinya menghianati bokap yang notabenenya sebagai pendukung Manchester City.

‘Namanya juga nggak tau hehehe’ aku tersipu malu. Meski malu, gapapa deh. Aku pun dapet bonus bisa memakai jaketnya Kenzko.

Kami pun meluncur ke cafe yang menggelar nonton bareng Manchester United melawan Chelsea. Aku sama sekali nggak ngerti tentang sepak bola. Yang aku tahu cuma David Bechkam dan Cristiano Ronaldo. Udah itu doang, itu pun karena mereka ganteng. Bukan karena cara bermainnya yang bagus.

Kenzko menggandeng tanganku masuk kedalam Cafe. Kami duduk diantara pendukung Manchester United yang dominan memakai jersey kebanggaan berwarna merah. Untung saja aku tadi dipinjamkan jaket MU milik Kenzko, kalau tidak aku bisa dikatain orang dugem nyasar.

Pertandingan dimulai, semua mata tertuju pada layar putih yang tersorot cahaya dari infokus. Sambil bernyanyi-nyayi ala pendukung sepakbola luar negeri, cafe ini terasa berevolusi menjadi stadion Old Trafford. Kenzko begitu serius mengamati pertandingan yang justru membuatku sangat membosankan. Aku menonton pura-pura ngerti aja, padahal dari tadi aku nanya-nanya mulu ke Kenzko apa itu offside ? Kok bisa offside ? Kok pelatihnya pake jas, kenapa nggak pake jersey juga ? kenapa kiper pake sarung tangan, emangnya mau balapan motor ?

Pertanyaan-pertanyaanku selalu dijawab oleh Kenzko meski Kenzko sepertinya agak terganggu dengan pertanyaan yang aku lontarkan ke dia. Supaya tidak mengganggu dia menonton, akhirnya aku juga ikut menonton dengan serius sambil menikmati kentang goreng yang sudah dipesannya tadi.

Pertandingan selesai dengan kedua tim berbagi angka 0-0. Kami lalu pulang. Selama perjalanan tidak ada obrolan yang asyik seperti di chatingan. Kenzko berbeda 180 derajat saat di dunia nyata. Dia agak kaku. Tidak ada pertanyaan yang sering ia ajukan seperti saat sedang chatingan. Kami diam seribu bahasa. Apa ia sedang kalut karena Manchester United hanya bisa bermain imbang ? Aku pun capek dengan situasi sepi seperti kuburan jeruk purut ini. Aku pun mencoba mencairkan suasana.

‘Tadi berapa-berapa skornya Ken ?’ tanyaku. Lalu aku tersadar pertanyaan ini adalah blunder.

‘0-0’ jawabnya singkat. Alhamdulillah dia tidak sadar kalo pertanyaan tadi seharusnya tidak usah dijawab. Masa iyak, jelas-jelas aku nonton tapi aku nggak tahu hasil akhirnya.

‘Manchester United mainnya bagus kok daripada Chelsea.Kelihatan selama pertandingan tadi Manchester United offside mulu, keren banget itu’ jelasku ngasal.

‘Hmmm’ Kenzko berdehem ketus.

Aku menghela napas panjang. Menduga-duga kalau Kenzko ini sedang kesambet setan bengong.

‘Kamu sakit ya ?’ tanyaku sambil memegang pundak sebelah kanan Kenzko.

‘Nggak kok’ jawabnya singkat padat, jelas, dan menyakitkan.

Aku pun tak melanjutkan pertanyaan apa-apa lagi. Aku lebih memilih diam sambil melihat-lihat sekeliling jalanan yang disorot lampu kuning. Serta pohon-pohon yang tertiup diterpa angin malam minggu yang kelabu.

Sampai dirumahku, dia langsung pamit untuk pergi. Tidak lupa aku kembalikan jaket yang ia pinjamkan. Ia tersenyum kecut. Jelas, pertemuanku malam ini tidak berkesan. Ditambah aku memendam teka-teki aneh tentang perbedaan sifat Kenzko. Perlahan motor Kenzko pergi, aku memandangi punggungnya yang gagah dari depan rumah. Senyuman kekecewaan terlukis diwajahku meski masih ada kebahagiaan kecil yang terselip. Diiringi senyuman dan angin dingin malam minggu, Kenzko menghilang.

----------

Dua minggu tidak ada komunikasi aku dengan Kenzko. Ditambah dua hari yang lalu aku harus menerima kenyataan pahit kalau Kenzko ternyata sudah punya pacar. Di Instagramnya ia mengupload foto aniverssarynya yang ke-2 tahun. Sial, aku hampir jadi madunya.

Fakta itu membuat hidupku jadi datar-datar saja. Tidak ada chatingan yang membuatku tidak fokus saat pelajaran. Kini, semenjak Kenzko tidak ada kabar aku lebih senang menggambar hati retak di buku tulis bagian belakang. Aku merasa gambar ini cukup menjadi penenang hatiku karena ditinggal Kenzko. Aku memang bukan milik Kenzko seutuhnya, jangankan seutuhnya, bagian secuil hatiku pun tak ada di hatinya. Aku sering bertanya-tanya kenapa begitu sakit ditinggal orang yang baru kita kenal ? Padahal siapakah dia ? Apalah dia bagi kehidupan kita ?

Bosan menggambar hati yang lama-lama malah bikin baper. Aku merogoh kantong rok. Lalu mengambil hape. Kemudian membuka aplikasi Instagram, lalu memotret punggung Bu Nia yang sedang menulis contoh soal di papan tulis dengan spidol. Foto itu aku upload ke instagram dengan caption ‘Aku percaya kalau mengenal fisika akan membuatku mengenal rumus-rumus yang rumit namun aku lebih percaya lagi jika mengenalmu akan membuatku lebih mengetahui bagaimana rasanya sakit hati yang dahsyat’

Dari postingan itu aku mendapat begitu banyak like. Aku terkekeh dimeja sambil tertunduk menatap hape. Tiba-tiba Bu Nia curiga dengan gerak-gerak mencurigakan yang aku buat, seperti biasa ia langsung teriak dengan mode stereo.

‘Zizi! Hitung semua pertanyaan yang ada di papan tulis ini didepan. Sekarang!’

‘Baik bu’

kali ini aku sudah bisa menjawab soal-soal dari Bu Nia. Karena aku masih percaya setelah pelangi selalu akan ada badai lagi yang datang. Oleh karena itu aku belajar. Dan aku tahu, badai yang tercipta itu adalah kedatangan Kenzko di kehidupanku. Meski sebentar tapi merusak. Aku melangkah kedepan dengan senyuman kemenangan, merengkuh spidol lalu menjawab semua contoh soal dengan benar. Yes.

Selasa, 29 Desember 2015

Cerpenkal : Hati Dalam Dusta



Berpura-pura untuk cinta sama saja membunuh hati secara perlahan

“ Gue pembunuh! Gue pembunuh! Gue Pembunuh!” Kia memukul-mukul gundukan tanah yang bertaburan bunga di bawah rintik hujan yang kian lama membasahi tudung hitam yang membalut rambutnya.

“Seandainya gue tahu akhirnya bakal begini. Gue nggak akan melakukan perbuatan keji ini. Sial! Gue pembunuh, Maafin gue, gue emang bangsat!” Kia menghempaskan tubuhnya ke gundukan tanah yang kotor. Memeluk gundukan tersebuat sehingga membuat wajahnya yang cantik seketika berubah coklat karena tanah liat. Air matanya begitu deras mengucur mengalahkan kecepatan air hujan yang semakin deras.

Tito berdiri tegak sambil memegang payung dibelakang Kia  melihat cewek itu yang terus-menerus meraung tak keruan menyesali perbuatannya. Ia sangat mengerti dan tahu bahwa Kia bukanlah seorang pembunuh. Kia hanyalah seorang cewek yang tak mengerti apa artinya sebuah keberadaan.

“ Selama lo menangis dan meraung kayak orang gila begitu, Dia nggak akan bangun lagi. Lo buang-buang waktu disini. Lo justru menyulitkan dia untuk pergi menghadap tuhan. Gue yakin dia akan tersenyum jika melihat lo menerima kepergiannya. Tapi kalo lo terus-menerus menangis dan menyalahkan diri lo sendiri, gue yakin, dia sangat marah pada lo!” Ujar Tito tegas memberikan keyakinan kepada Kia untuk berhenti meratapi kepergian sahabatnya.

“ Tangisan lo sama saja penderitaannya. Dia sayang sama lo. Dia nggak mau ngelihat orang yang disayangnya menangis apalagi sampai meraung seperti serigala kayak gini. Lo ngaca deh, muka lo udah nggak keruan, mata lo sembab, merah, kantung mata lo hitam, kayak monster!! Lo mau dia nangis di dalam kubur karena melihat lo begini ? Hah ?!” dengus Tito lalu membalikkan tubuhnya berancang-ancang untuk pergi “ Kalo lo masih mau disini. Silahkan. Tapi gue nggak tega ngelihat dia menderita karena sifat lo yang kayak gini” Tito melangkah pergi meninggalkan Kia yang masih sesak menangis di atas gundukan tanah, tempat bersemayamnya orang yang dicintainya

----------
Malam pergantian tahun yang sudah ditunggu-tunggu Iko kini telah hadir. Betapa senangnya Iko menyambut pergantian tahun 2015 ke tahun 2016. Resolusi di tahun 2015 yang belum tercapai kini menjadi lanjutan resolusi di tahun yang baru. Serta harapannya ingin bermalam tahun baruan bersama Kia kini segera terealisasi.

Iko begitu antusias menyambut malam spesial ini. Setelah mandi, memakai kemeja kotak-kotak berwarna dominan biru serta kombinasi putih dan hitam, celana jeans, rambut disisir lalu diacak-acak lagi, dan tidak lupa memakai parfum. Sebelum beranjak dari kamar, Iko pastikan sekali lagi di depan cermin, menatap sekujur tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala, lalu tersenyum miring.

Sambil menyisir rambutnya dengan jari dan memiringkan alis sebelah kanan Iko mengucap “Ganteng juga gue”

Iko menekan bel yang berada di samping gerbang. Lalu Iko berjinjit di depan gerbang  berharap cewek yang ditunggunya segera keluar dari balik pintu. Tak ada jawaban selama Iko tiga kali menekan bel, sebelum bel ke empatnya di tekan, cewek yang ditunggunya akhirnya keluar dengan cantik seperti cinderalla di cerita dongeng. Meski tidak memakai gaun dari bidadari dan kendaraan labu atau apalah, Ika keluar rumah disambut dengan senyuman Iko.

Dengan stelan hoodie merah marun, celana jeans yang dilipat diujungnya dan sepatu converse abu-abu, membuat Kia terlihat casual. Ini lah yang disukai oleh Iko dari penampilan Kia yang tidak terlalu ribet. Karena Iko tidak suka dengan perempuan yang penuh dengan gaya bak ratu tidur. Pakai gaun panjangnya sepanjang tol jagorawi atau mengharuskan cowoknya memakai jas. Itulah alasan kenapa Iko nyaman dan sangatlah suka dengan Kia.

“Maaf ya gue kelamaan dandannya hehehe” Kia tersenyum merasa bersalah.

“Nggak apa-apa kok selow aja kali. Mau lima puluh tahun lamanya juga gue jabanin hahahaha”

“Ah bisa aje lo” Kia menodorong bahu Iko seraya tersenyum melihat tingkah Iko yang kian lama membuat hatinya berdegup kencang.
Dengan motor matic milik Iko, mereka berdua menyusuri jalanan Ibu kota yang gemerlap cahaya lampu jalan serta tingginya gedung-gedung pencakar langit. Sorot lampu jalan menerangi mereka berdua, seakan mereka berdua adalah pemeran romeo dan Juliet di sebuah drama panggung yang ditonton oleh halayak ramai.

Perjalanan mereka berujung di sebuah pancuran yang menjadi ikon metropolitannya Jakarta. Yaitu, bundaran HI. Dipinggiran jalan HI mereka duduk di atas motor bercengkrama, tawa selalu menyertakan di setiap obrolan mereka, sambil menikmati jagung bakar mereka menanti waktu yang telah ditunggu-tunggu oleh orang-orang di seluruh dunia. Tepat pukul 00.00 hari pergantian tahun.

“Tahun depan resolusi lu apa ? “ Tanya Kia lalu mengigit biji-biji jagung yang berwarna hitam dan kuning.

“Hmm..rahasia” ledek Iko.

“Yeee dasar. Jawab nggak lo!!” Paksa Kia sembari membuat gaya seakan ingin memukul Iko dengan jagung yang sudah dimakannya

“Iyaa..iyaa gue jawab. Baperan sih weeee” Iko menjulurkan lidahnya lalu ia memalingkan tatapannya kearah pancuran air di bundaran HI. Tatapannya fokus ke aliran air tersebut lalu ia tersenyum dan menyodorkan wajahnya ke wajah Kia. Kini wajah mereka berjarak hanya sejengkal “Resolusi gue tahun depan cukup lo jadi pacar gue hahahahaha”

Ucapan Iko yang terkesan bercanda justru membuat Kia terdiam seribu bahasa. Tak ada senyum yang terlukis di wajahnya. Hanya ada raut wajah yang datar tanpa warna disana. Tatapan Kia kosong tak berisi apapun, Kia seperti terisi oleh makhluk halus di acara Dunia Lain. Sikapnya yang tiba-tiba berubah seperti orang kesambet, membuat Iko panik. Ia pun menghentak-hentak tubuh Kia.

“Ki..Kiaaaa..Lu nggak apa-apa kan ?” tanya Iko risau.
Kia tersadar dalam goncangan tangan Iko di lengannya “Gue nggak apa-apa kok hehehe. Ihh lihat tuh kembang apinya bagus banget” Kia menunjuk kearah langit yang dihiasi warna warni kembang api. Senyum lalu tergambar di wajahnya, Iko pun demikian. Mereka saling tersenyum melihat riuh rendahnya ledakan dan lukisan kembang api di langit gelap malam ini.  Dibalik semua itu ada sebuah rahasia yang membuat Kia bimbang dalam menjalani hidupnya saat ini. Sebuah kesalahan yang seharusnya tidak ia lakukan. Kesalahan besar. Hatinya seperti meledak-ledak layaknya kembang api. Sama tapi beda, ledakan kembang api yang indah sangat lah berbeda dengan ledakan kekawatiran hati Kia yang carut marut tak keruan.

------------

“Hah ? lo jalan sama Iko ? Gue pikir lu cuma nggak enak sama dia gara-gara dia sering nembak lu terus nggak lu terima-terima” Ujar Reni kaget setelah mereka keluar dari toilet.

“Gue sih sebenarnya emang nggak suka sama dia, tapi mau gimana lagi ya, ren. Dia tuh orangnya udah baik banget ke gue, guenya juga nggak enak kalo harus ninggalin dia tiba-tiba apalagi harus bilang kalo gue emang terpaksa jalan sama dia” Sahut Kia sambil mengikat rambutnya dengan karet berwarna merah pemberian Iko.

“Terus..terus gimana dong kalo dia bener-bener jatuh cinta sama lo. Jangan bikin orang sampe tergila-gila sama lo, Ki. Ntar kalau lo tinggal, bisa gila tuh Iko”

Kia menepuk pundak Reni. Mereka berdua berhenti sejenak “Tenang aja Reni ku sayang. Gue nggak sejahat itu kok. Setelah selama ini gue jalanin kepura-puraan gue dengan Iko, ternyata Iko tuh orangnya asik dan gue---” Kia membisikkan kata-katanya ditelinga Reni yang membuat Reni awalnya kaget lalu berubah menjadi kepanikan setelah menengok kebelakang tubuhnya ternyata Iko sudah berada di balik tubuh mereka berdua selama percakapan mereka tentang cowok itu berlangsung.

Iko berdiri gagah disana dengan tatapan bengis. Hatinya hancur ketika mendengar pernyataan Kia barusan. Padahal semua harapan dan cintanya sudah di letakkan tepat di hati Kia selama ini. Cewek yang diharapkannya kan menjadi pacarnya ternyata menyimpan sebuah kepura-puraan selama ini. Selama ini ternyata hanya semu yang dirasakan Iko. Semua kasih sayang, kata-kata cinta yang terlontar dari Kia ternyata hanya bayangan bukanlah nyata. Harapan yang diinginkan Iko kepada Kia ternyata palsu, semua tak akan terwujud.

“Gue udah tahu semuanya” Iko tersenyum, menjadikan senyumannya sebagai topeng kemarahannya terhadap Kia.

“Iko, kok kamu disini ?” Kia bingung harus berkata apa lagi tapi dia mencoba menjelaskan “Ini nggak seperti yang kamu dengar tadi, sebenarnya aku say----” ucapannya terpotong oleh Iko.

“Cukup!!” Teriak Iko membuat Kia dan Reni mundur satu langkah karena takut “ Lo nggak usah takut begitu, Ki. Gue cuma mau ngasih tahu ke lo kalo gue bukan orang yang haus akan cinta. Gue nggak butuh keberadaan orang yang nggak benar-benar mencintai gue. Selama ini gue memang sayang sama lo, gue cinta sama lo, dan bahkan dengan bodohnya gue berharap lo akan menjadi milik gue”

Iko menghela nafas panjang menahan sesak yang mendera hati. Iko mencoba menyeimbangkan kemarahannya dengan ketenangannya dalam berbicara “Ternyata selama ini gue mencintai orang yang salah. Orang yang berpura-pura dengan sandiwaranya membuat adegan dengan sempurna di hadapan gue. Gobloknya gue adalah gue sebagai penonton sangatlah terkesima melihat adegan bodoh lo itu. Gue terhipnotis dengan kemampuan lo saat berdrama” Iko bertepuk tangan, Kia hanya bisa menunduk melihat lantai “ Selamat Kia, drama lo selesai disini. Gue sebagai penonton cukup kagum dengan penampilan lo selama ini. Semoga tuhan memberi berkah dengan kemampuan drama lo ini. Mungkin setelah lulus nanti, lo bisa gantiin Luna Maya di dunia sandiwara hahahaha” Ujar Iko sarkas lalu pergi meninggalkan Kia. Sebelum langkahnya menjauh dari Kia, Iko berhenti lalu berbalik menatap lekat mata Kia yang tak lagi menunduk,  “Brengsek!

Iko pergi, langkahnya tak sadar ditemani air bening dari pelupuk mata. Ia tak mau dilihat seseorang kalo dia sedang menangis hanya karena cewek brengsek yang mempermainkan hatinya. Disisi lain, Kia salah. Waktu dan tempat tidaklah tepat baginya. Sesungguhnya apa yang dikatakan Kia tadi benar adanya, ia sangatlah tidak ingin di dekati ataupun ingin menolak kehadiran Iko. Namun, hati berkata lain. Semakin lama hati bertemu, semakin banyak butir-butir cinta yang tumbuh membentuk rasa sayang. Begitulah yang dirasakan Kia, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Iko lah bagian dari hatinya. Sayangnya, Iko sudah terlanjur marah kepadanya.

----------
Dua hari Iko tidak masuk sekolah membuat Kia risau. Dia fikir mungkin Iko sedang sakit atau cabut sekolah karena tidak ingin bertemu dengannya. Namun, Iko bukanlah orang yang sangat bodoh dan gila karena cinta sampai tidak sekolah karena ingin menghindari Kia.

Setelah bel masuk berbunyi, siswa-siswi memasuki kelas dengan teratur. Sebelum pelajaran dimulai, terdengar suara ketukan mic dari speaker di ujung ruang kelas.

“Tes.Tes.” suara guru BK dibalik speaker hitam yang bergantung “Innalillahi wa innaillahi rojiun. Kabar duka cita bagi kita semua atas meninggalnya salah satu keluarga kita ananda Federiko Kalama tadi pagi-----”

Suara dari speaker tersebut seketika senyap di telinga Kia. Dia tidak bisa percaya dengan kenyataan ini. Kenapa ? Kenapa ? Kenapa ? Pertanyaan tersebut terus bertubi-tubi mengerubungi otak Kia. Dia seperti orang gila yang kacau. Wajahnya ia benamkan ke permukaan meja, rambutnya ia gosok-gosok dengan telapak tangannya hingga membuatnya kacau balau.

Hatinya hancur seketika berkeping-keping seperti pecahan gelas.

“Nggak mungkin! Nggak mungkin Iko meninggal. Iko nggak boleh meninggal!! Iko jangan tinggalin gueeeeee!!” Tiba-tiba Kia berteriak uring-uringan di kursinya. Ia berdiri lalu berlari keluar kelas. Reni yang duduk disampingnya dan dibantu teman sekelasnya dengan sigap mengejar Kia yang berteriak seperti orang tidak waras.

Dengan kekuatan dari lima anak laki-laki dikelas, Kia akhirnya berhenti meraung-raung. Dia dibawa ke ruang UKS untuk meredam kekacauan hatinya yang kalut karena ditinggal Iko.
Bunyi decikan pintu mengalihkan perhatian Reni yang sedang menjaga Kia. Sumber suara tersebut ternyata diciptakan oleh Tito, teman baik Iko.

“Iko nitipin ini” Tito menyodorkan gelang yang bertuliskan Iko ke Kia.

“Makasih ya, to” Kia menerima gelang yang diberikan Tito itu, lalu dipakainya di tangan kanannya.

Tak kuasa air mata Kia lagi-lagi berjatuhan membasahi tangan dan gelang pemberian Iko.

“Gue yakin, Iko pasti seneng ngelihat gelang yang dibuatnya udah dipake sama orang yang disayanginya” ujar Reni seraya tersenyum ke arah Kia. Kia pun tertunduk menatap lekat gelang yang bertuliskan nama IKO. Tak sadar tatapannya membuahkan senyum yang indah diwajahnya.

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Pages

Super Stars

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Post

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Friendzone